top

Ada Nabi dalam Diri

Rp 82.000

Rp 75.000


Ada Nabi dalam Diri

Judul: Ada Nabi dalam Diri (Melesatkan Kecerdasan Batin Lewat Zikir dan Meditasi)
Penulis: Soraya Susan Behbehani
Penerbit: Serambi, 2003
Tebal: 288 halaman (hard cover)
Kondisi: Stok Lama-bersegel

orderPEMESANAN
Hubungi Kami di Contact
antarPENGIRIMAN
Barang Dikirim ke Rumah Anda

Bagian pertama buku ini membahas sejarah meditasi dan praktiknya menurut berbagai tradisi dan agama-agama. Bagian kedua mengangkat stress dan manajemen stress. Dalam bagian ketiga, setiap agama akan disajikan bersama dibawah (satu perspektif) hakikat agama, sufisme, yang menyatukan mereka semua.

Ketika tahap akhir agama, yakni Islam yang berarti kepasrahan total__dicapai, maka Adam, anak cahaya terlahir ke ketakterbatasan. Lolos dari jerat-jerat indrawi di dalam sebuah kepasrahan total, ia meninggalkan wujud terbatasnya dan akhirnya menyatu dengan tujuan hidupnya melalui praktik meditasi sejati.

Meditasi sebenarnya adalah perjalanan rohani yang terjadi pada jiwa, sebuah perjalanan yang membawa orang dari keadaan terbatas menuju keadaan tak terbatas. Hakikat wujud adalah pengetahuan tak terbatas, yang secara abstrak disebut Tuhan. Hakikat inilah yang membentuk dan melahirkan segala sesuatu. Namun, hakikat yang adalah juga diri sejati manusia itu untuk sementara terkubur dalam bentuk tubuh manusia yang kasar. Seperti sebuah mutiara yang masih terpendam di dalam kerang, identitas sejati manusia terjerat oleh ikatan-ikatan bumi. Agar rindu dan alienasi jiwa yang menderita itu terhenti, hakikat tak terbatas atau anak cahaya itu harus lolos dari jeratan tubuh menuju wujud dan penyatuan dengan ketakterbatasan. Ibarat setetas air yang sekalipun setetas saja, tapi sekali mencapai lautan, ia tak menjadi setetes air, melainkan bagian tak terpisahkan dengan lautan.

Melalui meditasi, penjelajahan diri terjadi, Semua nabi mendakwahkan penjelajahan diri ini. Pesan ini abadi dan tidak hanya dimiliki tradisi, sekte atau agama tertentu, melainkan meliputi semuanya.

Sekali jiwa telah terbebas dari berbagai perubahan yang konstan, ia akan bebas dari belenggu-belenggu bumi dan menjadi abadi; kematian tidak lagi mengancam. "Kebangkitan" inilah yang sebenarnya dimaksudkan oleh seluruh nabi, bukannya hari kebangkitan ketika seluruh kuburan terbuka dan setiap mayat bangkit. Kebangkitan bukan untuk tulang-belulang yang mati, tetapi untuk jiwa yang hidup.

Kekuatan bukan terletak pada menghindari godaan-godaan material dunia, melainkan pada memahami dan tabah menghadapi semua itu. Perlindungan orang adalah hatinya, dan ditempat itulah semestinya dia mencari perlindungan. Karena itu, penyendirian (khalwat) tidak berarti bahwa ia harus memisahkan diri dari masyarakat, tetapi ia harus hidup diantara mereka tapi tidak mengikuti kebiasaan-kebiasaan buruk mereka.

Pikiran-pikiran kita adalah rumah-rumah terbuka yang menerima dan menyimpan hampir segala sesuatu yang datang dan tak pernah dibersihkan dan disusun rapi. Kapankah anda pernah duduk termenung, memikirkan bagaimana membersihkan rumah tangga mental anda?

Perbedaan antara agama dan teologi adalah bahwa teologi tak lebih dari sekadar sistem pemikiran spekulatif tentang hal-hal gaib, sedangkan agama adalah pengalaman. Cita-cita seniman adalah keindahan, ilmuwan adalah kebenaran, dan moralis adalah kebaikan. Agama menggabungkan semua itu dan ia ingin menyadarkan kita akan kesatuan.

Jalan menuju ketenangan dan kebahagiaan tersimpan di dalam batin kita masing-masing. Jenis bantuan apa pun yang diperoleh dari luar, bahkan yang terbaik dan yang paling tidak beresiko sekalipun, hanyalah bersifat sementara. Luka harus mulai diobati dari dalam. Jadi, pengobatan medis diterapkan untuk menghindari infeksi, tetapi tumbuhnya kembali jaringan otot baru adalah proses penyembuahn yang terjadi dari dalam (batin).

Sumber energi paling penting dalam tubuh adalah hati. Para sufi menyebutnya "sumber kehidupan". Hati dikenal sebagai manajer yang bijak dan perkasa. Ia memiliki kecerdasan, dan yang paling penting, ia terkait dengan seluruh sumber magnetik.

Terlatih selama lima belas tahun dalam bidang meditasi dan penyembuhan, Soraya mengupas secara komperehensif aspek historis, teoretis, dan praktis meditasi dalam agama-agama, terutama meditasi sufi. Melalui meditasi, penjelajahan diri terjadi. Semua nabi mendakwahkan penjelajahan diri ini. Pesan itu abadi dan tidak hanya dimiliki tradisi, sekte atau agama tertentu, melainkan meliputi semuanya.

Soraya juga mengajak kita untuk kembali kepada praktik meditasi yang sebenarnya. Lebih dari sekadar untuk mengencangkan otot, meraih kesaktian, melatih konsentrasi, atau menyembuhkan stres dan AIDS—sebagaimana dipraktikkan di dunia modern—meditasi bertujuan untuk mempertinggi pengalaman, menyempurnakan kesadaran, pertumbuhan, dan evolusi batin agar potensi diri dapat berfungsi sepenuhnya. Dan, menurutnya, tanpa dikembalikan ke akar religiositasnya, meditasi akan tumpul. Bahkan, bagi kepentingan penyembuhan dan konsentrasi sekalipun, ia tak akan banyak membantu. Sebab, sumber meditasi adalah hati. Melalui sumber energi hatilah kesehatan yang utuh akan tercapai.

Buku ini hendak membuktikan, jalan menuju ketenangan dan kebahagiaan tersimpan di dalam batin kita masing-masing. Jenis bantuan apa pun yang diperoleh dari luar, bahkan yang terbaik dan yang paling tidak beresiko sekalipun, hanyalah bersifat sementara. Luka, misalnya, harus mulai diobati dari dalam. Pengobatan medis diterapkan untuk menghindari infeksi, tetapi tumbuhnya kembali jaringan otot baru adalah proses penyembuhan yang terjadi dari dalam (batin)

Diperkaya oleh puisi menggugah dan ilustrasi menarik, serta ditunjang oleh berbagai latihan praktis melenturkan tubuh dan mendamaikan pikiran, buku ini bagaikan pemandu yang siap mengantar pembacanya untuk meraih keutuhan diri dan kebenaran.

Description
Reviews
SAME DAY SHIPPING
Pengiriman langsung dilakukan pada hari pemesanan
Copyright ©.
Lapak Buku (Labu) - Toko Buku Online Allright reserved.
Support by Achmad Rifai Proudly by Blogger