top

Kesatuan Ideal Agama-Agama

Rp 62.000

Rp 57.000


Kesatuan Ideal Agama-Agama

Judul: Kesatuan Ideal Agama-Agama
Penulis: Hazrat Inayat Khan
Penerbit: Putra Langit, 2003
Tebal: 372 halaman
Kondisi: Stok Lama

orderPEMESANAN
Hubungi Kami di Contact
antarPENGIRIMAN
Barang Dikirim ke Rumah Anda

Apa yang diperlukan di dunia pada saat ini adalah rekonsiliasi antara orang-orang beragama (religious) dengan orang-orang yang menjauh dari agama. Tetapi apa yang bisa kita lakukan ketika kita melihat dalam agama Nasrani ada banyak sekte yang saling bertentangan; pun agama Islam, Budha, Yahudi, dan masih banyak lagi. Masing-masing mementingkan diri mereka sendiri dan berpikir bahwa yang lain tidak layak untuk dipikirkan. Sekarang bagi saya agama-agama ini seperti organ tubuh yang dipotong-potong dan tercerai-berai. Oleh karena itu, bagi saya secara pribadi, hal tersebut tampak seolah-olah satu tangan dari satu orang yang sama dipotong dan melawan tangan satunya lagi.

Agama hadir sebagai dimensi transendental sekaligus kultural dalam kehidupan umat manusia. Dalam dimensi transendentalnya, agama menghadirkan diri sebagai medium di mana manusia menapak tangga bagi perjumpaannya dengan Tuhan, muasal dan sumber dari semesta. Sedang dalam dimensi kulturalnya, agama hadir sebagai prinsip dasar bagi terciptanya keteraturan tatanan hidup umat manusia dalam terang Yang Ilahi.

Dalam pemikiran sufistik Hazrat Inayat Khan, agama diakui sebagai suatu kebutuhan paling fundamental pada setiap jiwa manusia. Di sepanjang sejarah dan di setiap tingkatan evolusi umat manusia, kehadiran agama terasa sangat dibutuhkan. Lebih jauh Inayat melihat, kebutuhan jiwa manusia terhadap agama dilatarbelakangi oleh adanya lima keinginan mendasar di dalam setiap jiwa manusia, di mana semua keinginan tersebut mendapatkan jawabannya di dalam agama.

Keinginan pertama terrefleksikan dalam upaya manusia untuk mencari yang ideal (search for the ideal). Keinginan ini datang ketika manusia berupaya mencari keadilan yang lebih utuh daripada yang telah dia temukan di antara sesama manusia, dan ketika dia mencari seseorang, yang padanya dia berharap dapat bersandar lebih daripada yang dia dapatkan ketika bersandar pada teman-temannya di dunia ini. Dengan kata lain, keinginan ini bermula ketika manusia merasakan suatu keinginan untuk membuka hatinya pada tingkat keberadaan yang berada di atas keberadaan umat manusia dan dapat memahami hatinya. Secara alamiah manusia berkeinginan menemukan seseorang atau subjek tertentu yang lebih agung dan perkasa daripadanya. Dan ketika dia mencari ideal tersebut di dalam dunia fana ini, maka secara praktis dia akan mengarah kepada suatu subjek yang lebih tinggi dan mampu menjawab segala pencariannya. Pada subjek inilah, manusia menyandarkan semua yang diharapkannya baik dalam bentuk pertolongan, perlindungan, dan pengampunan. Melalui agama, manusia kemudian menemukan bentuk penyandaran atas semua pengharapannya secara mutlak tersebut: Tuhan.

Menurut Inayat, agama yang diikuti oleh manusia berjumlah banyak dan berbeda antara satu dengan lainnya, namun semuanya hanya terletak pada bentuk lahirnya. Seperti air yang memiliki elemen sama, namun ketika ia diletakkan pada suatu tempat tertentu, maka air akan memiliki nama berbeda sesuai tempat tampungannya yaitu menjadi sungai, laut, danau, mata air, atau kolam; demikian pula dengan agama. Agama memiliki kebenaran esensial yang tunggal, namun kemudian agama justru akan menampakkan keberbedaan aspek plural ketika agama dikonsepsikan oleh masyarakat pengimannya.

Lebih jauh Hazrat Inayat Khan juga memisalkan keragaman agama sebagai tangga nada. Setiap agama membunyikan satu nada yang dapat menjawab tuntutan atau pun keinginan umat manusia dalam satu zaman tertentu. Dan pada setiap zaman hanya diberikan satu nada tertentu seiring dengan kebutuhan dan kemampuan evolutif setiap manusia untuk mengapresiasinya. Konsekuensinya, seringkali ketika seseorang diberi tangga nada C dan yang lainnya diberi tangga nada G akan terjadi perselisihan. Masing-masing akan mengklaim bahwa tangga nada yang dimainkannya adalah yang paling benar. Mereka tidak menyadari bahwa ketika keduanya digabungkan, maka akan tercipta suatu musik yang sangat indah. Demikian pula agama, ketika suatu agama tertentu diturunkan pada suatu kelompok manusia tertentu, seringkali muncul suatu kecenderungan yang mendorong manusia untuk menghakimi dan mengklaim bahwa agamanyalah yang paling benar dan paling memungkinkan bagi pencapaian keselamatan (salvation) melaluinya.

Inayat Khan menegaskan bahwa sikap dan pemikiran yang hanya menekankan sisi keberbedaan karena kepercayaan (belief) sebagai satu hal yang sangat potensial untuk memecah belah umat manusia, bukan mempersatukan. Kesempitan pandangan partikular, meskipun dengan mengatasnamakan agama, hanya akan menyebabkan keterlukaan fihak lain yang sebenarnya memiliki sumber dan muara akhir yang sama. Bahkan pandangan partikular keagamaan yang sempit, justru hanya akan menyebabkan penodaan terhadap agama di mana loyalitas pengiman diberikan. Ajaran agama apapun, di manapun, dan di waktu kapan pun yang hadir ke dunia ini, tidak bertujuan untuk mengangkat derajat beberapa orang saja yang mungkin memberikan kesetiaannya. Sebab seperti hujan dan matahari tidak akan pernah turun dan bersinar di satu negeri tertentu saja, melainkan di banyak tempat dan waktu yang berbeda. Semua yang bersumber dari Tuhan diperuntukkan bagi semua jiwa. Dan sesungguhnya rahmat Tuhan adalah untuk semua jiwa; sebab setiap jiwa, apapun keimanan dan keagamaannya adalah milik-Nya.

Description
Reviews
SAME DAY SHIPPING
Pengiriman langsung dilakukan pada hari pemesanan
Copyright ©.
Lapak Buku (Labu) - Toko Buku Online Allright reserved.
Support by Achmad Rifai Proudly by Blogger