top

Marhaenis Muhammadiyah

Rp 58.000

Rp 50.000


Marhaenis Muhammadiyah

Penulis: Abdul Munir Mulkhan
Penerbit: Galang Press, 2010
Tebal: 324 halaman
Kondisi: Stok Lama

orderPEMESANAN
Hubungi Kami di Contact
antarPENGIRIMAN
Barang Dikirim ke Rumah Anda

"Islam yang kita catut dari Kalam Ilahi dan sunnah bukan apinya, bukan nyalanya, tapi abunya, debunya...ach, ya asapnya, abunya yang berupa celak mata dan surban, abunya yang bisanya cuma Fatihah dan Tahlil, bukan apinya yang menyala-nyala dari ujung zaman satu ke zaman yang lain."
--Sukarno, 1940

Memperjuangkan marhaen berarti juga memperjuangkan kaum duafa."
--Prof. Dr. Din Syamsuddin, M.A., Ketua Umum PP Muhammadiyah

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa Muhammadiyah bukanlah kesatuan entitas yang seragam atau homogen. Keberagaman model kepengikutan itu muncul karena adanya gesekan manakala doktrin tarjih Muhammadiyah pascakepemimpinan Kiai Ahmad Dahlan diberlakukan secara kaku. Konsep Islam murni syariahistis itu akibat dari mendominasinya elite ahli syariah yang ingin memusnahkan tradisi TBC (tahyul, bid’ah, dan c(k)hurafat), bahkan tak jarang cara-cara kekerasan ditempuh demi menegakkan syariah. Gerakan pemurnian Islam seperti itu jelas berseberangan dengan latar belakang kultural masyarakat desa yang mayoritas bermata pencaharian petani. Mereka tertarik bergabung dengan Muhammadiyah manakala gerakan yang menawarkan pembaruan ini meluas ke pedesaan.

Sangatlah wajar apabila kaum petani itu merasa asing dengan konsep Islam fundamentalis. Sebaliknya, mereka justru merasa nyaman dengan pola pemurnian Islam yang dibawa oleh Kiai Ahmad Dahlan yang mengedepankan kesalehan spiritual. Karena pergulatan ideologi itulah, muncullah model kepengikutan yang dinamakan Marhaenis Muhammadiyah, nama sebutan bagi sekelompok orang di suatu tempat di pedesaan, persisnya di Wuluhan, Jember, Jawa Timur, yang kemudian menjadi pengikut Muhammadiyah. Bagi kaum tani, menjadi Muhammadiyah akan memiliki arti apabila sesuai dunia makna magis, bukan etis. Upacara ritual TBC, diubah maknanya sebagai tradisi dan sebagai media berbuat baik dan berbakti kepada ”orang tua” atau untuk membangun jaringan dakwah. TBC tidak serta merta ditolak, tapi Islam murni di-pribumisasi, sehingga taklid, slametan kematian, dan tahlilan merupakan gejala umum yang dianut pengikut gerakan ini.

Marhaenis Muhammadiyah ibarat ”teologi petani” atau ”jalan baru” Islam yang bisa mendorong etos kerja produktif serta mengembangkan pemikiran Islam yang inklusif. Dari sinilah, kehidupan masyarakat pluralis demokratis tumbuh dengan subur.

-----------------

Ada empat varian anggota Muhammadiyah. Pertama, kelompok Al-Ikhlash (Islam murni yang puritan). Kedua, kelompok Kiai Dahlan (Islam murni tapi toleran terhadap praktek TBC-takhayul, bid'ah, dan khurafat kelompok lain). Ketiga, kelompok Munu (Muhammadiyah-NU atau neotradisionalis). Keempat, kelompok Munas (Muhammadiyah-Nasionalis) atau Marmud (Marhaenis-Muhammadiyah).

SAYA ingin mengawali kolom ini dengan temuan seorang ilmuwan sekaligus aktivis yang sangat cerdik, Dr. Abdul Munir Mulkhan. Dalam disertasi doktornya, gerakan "Pemurnian Islam di Pedesaan" (kasus Muhammadiyah), ia mendapatkan fakta yang mengejutkan: tidak seperti yang diduga selama ini, ternyata Muhammadiyah itu bukanlah entitas yang homogen.

Ada empat varian anggota Muhammadiyah. Pertama, kelompok Al-Ikhlash (Islam murni yang puritan). Kedua, kelompok Kiai Dahlan (Islam murni tapi toleran terhadap praktek TBC-takhayul, bid'ah, dan khurafat kelompok lain). Ketiga, kelompok Munu (Muhammadiyah-NU atau neotradisionalis). Keempat, kelompok Munas (Muhammadiyah-Nasionalis) atau Marmud (Marhaenis-Muhammadiyah).

Walhasil, anggota Muhammadiyah itu secara teologis, sosiologis, dan politis sangatlah heterogen. Bahkan, spektrum ideologi atau afiliasi politiknya sangat lebar, selebar perbedaan politik antara Bung Karno dan Prof. Kasman Singodimedjo atau Ki Bagus Hadikusumo. Bung Karno itu Muhammadiyah tulen: bukan hanya menantu Konsul Muhammadiyah Sumatera Bagian Selatan di Bengkulu, Haji Hassan Din, melainkan juga pernah memimpin Majelis Pengajaran Konsul Muhammadiyah di sana. Tapi, secara politik, ia nasioanalis dan marhaenis.

Demikian juga Pak Harto, mantan presiden kita yang kini nasibnya mengundang iba itu, adalah bibit tulen Muhammadiyah yang lulusan HIS Muhammadiyah. Bahwa ada aroma kejawen, itu berarti beliau termasuk subvarian Muyi (Muhammadiyah-Priayi) atau Muwen (Muhammadiyah- Kejawen). Tetapi, sekali Muhammadiyah tetap Muhammadiyah. Orang Muhammadiyah selama ini juga tidak bersikap "tiba di mulut dimuntahkan, tiba di perut dikempiskan" terhadap kemuhammadiyahan Pak Harto hanya karena beliau dihujat orang. Toh, perpolitikan di negeri ini berjalan siklik dan repetitif: tidak dulu tidak sekarang, cuma hujat-menghujat saja terhadap presiden yang sudah jatuh.

Kini, politik orang Muhammadiyah tetap beraneka ragam, untuk tidak mengatakan tidak karu-karuan. Banyak yang di PAN, tapi banyak juga yang di Golkar, PDI-P, PPP, PBB, PK, dan (jangan tertawa!) PKB, yakni -siapa lagi kalau bukan- Habib Chirzin yang dari dulu, kata orang, memang "Gus Durian" itu. Orang mungkin juga tidak tahu bahwa Drs. Arbi Sanit yang kerjanya setiap hari menghantam dengan sinis Prof. Dr. Amien Rais itu adalah Muhammadiyah juga. Arbi Sanit -meski tidak jelas apa yang dulu telah ia kerjakan- pernah menjadi Wakil Ketua Majlis Hikmah (baca: dapur politik) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah semasa KH Azhar Basyir (almarhum).

Yang menarik, bangsa ini belum pernah mendengar sinyalemen adanya Muhammadiyah connection, apalagi Muhammadiyah conspiration. Para politisi itu maju secara individual dalam kapasitas pribadi: tidak menjadikan Muhammadiyah sebagai "sabuk pengaman" dalam berpolitik. Politik orang Muhammadiyah juga bukan politik komunalistik: asal kelompoknya sendiri, apa pun yang terjadi, bahkan meski korup dan selingkuh, dibenarkan dan dibela mati-matian. Tidak elok membela secara buta orang yang sedang berkuasa hanya karena satu klan atau satu ormas. Ini namanya politik yang komunalistik, tribalistik, dus primitif.

Dalam konteks ini, Muhammadiyah sesekali boleh berbangga pada Amien Rais: meski terhadap Presiden Soeharto yang bibit Muhammadiyah itu, ia hantam juga. Eloknya, meski ketika itu ia masih menjabat Ketua PP Muhammadiyah, tak ada seorang pun yang mengancam Muhammadiyah dan menjadikannya sebagai sandera politik dengan menghunus golok seperti sekarang ini.

Muhammadiyah juga senang dengan Menteri Pendidikan Nasional, Prof. Yahya Muhaimin, dan mantan Menteri Keuangan, Dr. Bambang Sudibyo, karena keduanya tidak nepotis dan kroniis. Ketika Bambang Sudibyo yang Marmud itu dipecat Presiden Wahid, orang Muhammadiyah juga tidak mau ambil peduli, apalagi mengasah golok segala macam. Demikian juga ketika Amien Rais dikritik, diancam, dan malah dicekal lawan-lawannya, massa Muhammadiyah diam seribu bahasa. Pasalnya, kritik dan kecaman adalah asam garamnya politik. Kalau tidak rela tokoh politik idolanya dikritik, tak usahlah bermain politik. Lebih baik menjadi khatib salat Jumat saja: dijamin aman dan jauh dari kecaman.

Nah, sudah begini inklusif dan pluralisnya perpolitikan Muhammadiyah, masih saja ada yang hendak memperlakukannya sebagai entitas politik yang homogen dan komunalistik. Ada upaya sistematis yang hendak menjadikan Muhammadiyah sebagai "sandera politik" demi mempertahankan Presiden Abdurrahman Wahid.

Ketika Dr. Nurcholish Madjid mewanti-wanti akan terjadinya konflik horizontal antara massa NU dan Muhammadiyah jika Presiden Wahid diturunkan, maka ia bukan hanya ikut melakukan reduksi yang sangat berbahaya terhadap persoalan bangsa, melainkan juga secara tidak sadar menjustifikasikan upaya para pendukung fanatik Presiden Wahid untuk menjadikan Muhammadiyah sebagai sandera politik.

Betapa absurd: kemelut politik yang menyangkut 210 juta rakyat direduksi menjadi sekadar persoalan Muhammadiyah-NU, atau apalagi persoalan dua orang, Abdurrahman Wahid dan Amien Rais. Lebih absurd lagi, ada seorang kiai, doktor ilmu tasawuf, lulusan Univeritas Ummul Qura yang berpusat di Kota Suci Mekkah, tanpa sedikit pun malu berpidato garang di mana-mana: "Jika Gus Dur dijatuhkan, habis orang Muhammadiyah!" Lho, ini sufi, politisi, atau penjagal sapi?

Description
Reviews
SAME DAY SHIPPING
Pengiriman langsung dilakukan pada hari pemesanan
Copyright ©.
Lapak Buku (Labu) - Toko Buku Online Allright reserved.
Support by Achmad Rifai Proudly by Blogger