top

Metode Menaklukan Jiwa

Rp 78.000

Rp 72.000


Metode Menaklukan Jiwa

Judul: Metode Menaklukan Jiwa; Pengendalian Nafsu dalam Perspektif Sufistik
Penulis: Al-Ghazali
Penerbit: Mizan, 2013
Tebal: 344 hlm
Kondisi: Baru Segel

orderPEMESANAN
Hubungi Kami di Contact
antarPENGIRIMAN
Barang Dikirim ke Rumah Anda

Arti-penting akhlak dalam Islam ditegaskan dalam banyak ayat Al-Quran dan sabda Nabi Muhammad Saw. Sedemikian pentingnya akhlak sehingga Nabi bersabda "Tidaklah aku diutus ke semesta kecuali untuk menyempurnakan akhlak" dan "Sebaik-baik mukmin adalah yang paling baik akhlaknya." Hal ini menunjukkan bahwa akhlak merupakan ukuran pencapaian kemanusiaan dalam Islam.

Dengan ketajaman analisis seorang filosof dan kedalaman penghayatan seorang sufi, Al-Ghazal? -sang Hujjatul-lslam- membedah seluk-beluk akhlak berdasarkan sumber-sumber autentik (Al-Quran dan Sunnah) dan khazanah pemikiran Islam yang sangat kaya. Di tangannya, tema akhlak bukan hanya tampil sebagai praktik budi pekerti yang sangat luhur, melainkan juga review yang sangat rasional dan mendalam.

Dalam buku itu disebutkan bahwa menyedikitkan makan dapat mengalahkan hawa nafsu. Ghazali menyampaikan tentang keutamaan rasa lapar disertai dalil-dalilnya. Misalnya hadist dari Rasulullah Saw, “Perangilah nafsumu dengan lapar dan rasa haus karena sesungguhnya pahala dalam hal itu seperti pahala berperang di jalan Allah. Tidak ada amal yang lebih dicintai di sisi Allah kecuali rasa lapar dan rasa haus”. Beliau Saw juga bersabda, “Janganlah kalian membunuh hati kalian dengan banyak makan dan minum, karena sesungguhnya hati laksana ladang pertanian yang akan mati jika terlalu banyak air.” Selanjutnya, hadist yang sering disampaikan dalam buku ini, “Tidaklah pernah seorang anak Adam mengisi bejana yang lebih buruk daripada perutnya sendiri. Oleh karena itu, cukuplah bagi anak Adam beberapa suap kecil yang dapat menegakkan tulang punggungnya; jika dia tidak mampu dengan ini, hendaklah diisinya dengan sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk nafasnya.”

Ghazali sangat menekankan tentang pentingnya menjaga perut agar tetap lapar. Masalahnya, beberapa kisah ulama sufi yang beliau paparkan menurut saya cenderung berada dalam posisi ekstrem, misalnya mereka terbiasa tidak makan selama 3 hari. Bahkan ada kisah yang menyebutkan bahwa seorang ulama sufi sanggup tidak makan selama 60 hari. Hal ini tentu diluar nalar manusia zaman modern, tapi toh sudah pernah terjadi.

Menahan tidur dapat menjernihkan keinginan. Ghazali memaparkan bahwa tidur bisa mengeraskan dan mematikan hati kecuali jika seseorang tidur hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhannya yang tengah berupaya menyibak tabir Yang Mahagaib. Tidur berlebihan berarti menghabiskan waktu dengan sia-sia. Orang harus dapat memanfaatkan saat-saat menjelang subuh untuk bermunajat, aktivitas yang paling tinggi nilainya dibandingkan tidur yang merupakan aktivitas paling rendah.

Dalam hal ini, kita sendiri sering mendengar hadist bahwa Rasulullah Saw sering terjaga di malam hari untuk tahajud sampai kaki beliau bengkak. Kita sering membaca artikel di media massa maupun internet yang menyatakan bahwa manusia butuh tidur selama 8 jam sehari. Menurut saya, itu pendapat yang kurang tepat dan tidak perlu dipraktekan karena dengan begitu 1/3 (sepertiga) hidup kita di dunia akan dihabiskan hanya untuk tidur. Kapan berkaryanya?

Ada satu hadist yang sangat populer tentang hal ini, yaitu Rasulullah Saw mewasiatkan kepada kita untuk bicara baik atau diam. Ada hadist Rasulullah Saw lainnya yang berbunyi, “Barangsiapa menjaga lidahnya, dia akan diselamatkan.” Banyak kejahatan manusia, misalnya memfitnah, mencerca, menjilat, berbohong, dan mengutuk, terjadi karena ucapan yang kurang dipertimbangkan.

Al-Ghazali mengutip pendapat seorang tokoh yang tidak disebutkan namanya: “Lidah seorang bijak terletak di bawah hatinya, jika dia ingin bicara, ucapannya akan merujuk pada hatinya, dan jika ucapannya itu selaras, barulah dia berbicara. Jika tidak, dia akan menutup mulutnya. Namun, hati orang pander terletak di ujung lidahnya. Kata-kata yang diucapkannya tidak merujuk pada hatinya, dan apa saja yang ingin diucapkan lidahnya, maka dia pun mengatakannya.

Bersabar terhadap gangguan orang lain akan membawa keberhasilan mencapai cita-cita. Sebab tidak ada yang paling sulit bagi seorang hamba selain bersikap santun ketika dihina dan bersabar terhadap hal-hal yang menyakitkan. Dalam hal ini, kita juga sering mendengar kisah tentang Rasulullah Saw. yang selalu diludahi oleh seorang Yahudi ketika akan berangkat ke masjid. Beliau Saw. yang akhlaknya mulia itu tidak pernah marah, bahkan beliau menjadi penjenguk pertama ketika si Yahudi itu sakit.

-------

Tidak bisa dibantah dan tak bisa dipungkiri lagi bahwa manusia merupakan mahkluk Tuhan yang paling istimewa dan paling sempurna. Hal tersebut telah diakui oleh Allah Swt. melalui firman-Nya dalam al-Qur’an surah at-Tin: 4 di atas. Bahkan tidak hanya itu, manusia juga mendapat legitimasi kemuliaan dari penciptanya, sebagaimana bunyi al-Qur’an “Sungguh, Kami muliakan anak cucu Adam.” (QS. Al-Isra: 70)

Namun, tak sembarang orang mendapatkan predikat “mulia”. Kemuliaan ini hanya untuk mereka yang menfungsikan akal sehatnya, sehingga mereka selalu meng-iakan perintah pencipta-Nya dan menghindar dari murka-Nya. Akan tetapi untuk mewujudkan itu semua, manusia tak semudah membolak-balikkan telapak tangan, mereka membutuhkan kerja keras untuk menaklukkan hawa nafsu yang bersemayam dalam jiwa manusia yang selalu mengajaknya ke jalan kesesatan.

Allah memang sengaja menciptakan akal dan hawa nafsu dalam diri manusia, karena dengan keduanya manusia memiliki peluang untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi di atas derajat para Malaikat. Keduanya bagaikan sayap yang akan membawa derajat manusia terbang melampaui derajat Malaikat. Namun, dengan keduanya pula manusia bisa terjerumus ke dalam jurang kehiaan yang lebih rendah daripada hewan yang tak berakal.

Oleh karena itu, kita harus selalu menjaga akal dan jiwa kita agar tidak mudah terasuki bisikan-bisikan manis nafsu yang siap menyergap saat diri kita lengah, agar kita tidak menjadi orang yang celaka, baik di dunia ataupun di akhirat kelak.

Nafsu bagaikan singa lapar di tengah padang pasir yang siap mengcengkeram dan mencabik-cabik apapun yang ada di depannya. Ia tidak akan memberikan manfaat, bahkan ia hanya akan merugikan. Nafsu akan selalu mengajak manusia kepada hal-hal yang enak dan nikmat menurut pandangan manusia namun tidak pernah diridhai oleh syara’. Hal ini dapat kita lihat dari larangan Tuhan kepada manusia untuk tidak mendekati zina, sebagaimana firman-Nya, “Jangan kau dekati zina”. Zina (jima’) adalah perbuatan yang amat sangat disukai oleh manusia pada umumnya. Namun, hal tersebut sangat ditentang oleh Islam.

Larangan Tuhan di atas memberikan pemahaman kepada manusia bahwa nafsu adalah musuh terbesar dan terkuat bagi mereka. Hal ini sesuai dengan apa yang disabdakan oleh nabi Muhammad Saw. kepada para sahabat saat mereka kalah dalam perang Uhud. Beliau bersabda bahwa perang Uhud itu merupakan perang kecil dibandingkan dengan memerangi nafsu kita. Oleh sebab itu, kita harus bisa menaklukkan nafsu jika kita ingin hidup dengan selamat.

Imam al-Ghazali berpendapat bahwa nafsu dapat ditaklukkan dengan perut yang lapar. Karena perut merupakan sumber utama nafsu dan penyebab berbagai kerusakan. Ketika perut kenyang, maka nafsu berpotensi untuk bangkit. Mulai dari nafsu seks dan hasrat kuat terhadap wanita, lalu disusul dengan nafsu makan yang mengarah pada sifat rakus terhadap ketenaran dan kekayaan. Sehingga mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan jabatan dan kedudukan. Lalu muncullah sifat angkuh, rasa dengki dan kesombongan yang ujung-ujungnya berakhir dengan permusuhan, (hal. 172). Dan keadaan itulah yang sedang terjadi di Indonesia saat ini, para petinggi negara hanya memikirkan isi perut tanpa peduli kepada rakyatnya. Sehingga makan uang negara itu sudah menjadi sebuah ‘kewajiban’.

Inilah akibat dari kenyangnya perut yang memang mewariskan hal-hal yang bersifat negatif, jika seseorang mau melumpuhkan nafsunya dengan rasa lapar maka dia akan memperoleh kemudahan untuk sampai kepada Allah Swt. Karena ketika perut kita kosong, maka nafsu syahwat kita akan ikut kosong. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad yang memerintahkan sahabat untuk berpuasa ketika mereka ingin menikah akan tetapi mereka tidak mampu membayar mahar dan menafkahi keluarganya. Dari perintah nabi itu, sudah jelas bahwa perut kosong dapat menaklukkan nafsu.

Selain itu, perut kosong juga akan menyelamatkan seseorang dari kemungkinan tenggelamnya ke dalam kemegahan dunia dan bisa mencegah seseorang untuk tidak terperosok ke dalam cinta buta terhadap harta benda duniawi.

Dalam buku yang berjudul Disciplining the Soul: Breaking the Two Desire, yang merupakan terjemahan dari kitab Ihya’ Ulumiddin, karya Imam Al-Ghazali, dan diterjemahkan lagi ke dalam bahasa Indonesia oleh Rahmani Astuti dengan judul “Metode Menaklukkan Jiwa: Pengendalian Nafsu dalam Perspektif Sufistik”, ini juga dijelaskan bahwa ada sepuluh manfaat ketika kita mampu menahan rasa lapar, dalam artian perut kita tidak terlalu kenyang yang sampai melampaui batas kewajaran. Di antaranya adalah menyucikan hati, menerangi naluri dan menajamkan kecerdasan. Seorang anak yang banyak makan, kemungkinan akan berisiko terhadap lemahnya daya ingat dan menyebabkan rusaknya kecerdasan, sehingga dia akan tumbuh menjadi orang yang lamban dalam berpikir. Karena rasa lapar itu memang mencipta kebodohan, membutakan hati, serta memperbanyak uap air di dalam otak yang dapat menutupi pemikiran sehingga hati kesulitan dalam memahami segala sesuatu dengan cepat, (hal. 183)

Selain itu, rasa kenyang dapat membuat mata kita selalu mengantuk, orang yang perutnya tidak lapar akan mudah memejamkan mata, dan tertidur dengan pulas. Sehingga hal ini dapat berakibat terhadap tertundanya ibadah kita kepada Allah.

Namun, menahan lapar akan terasa berat bagi orang yang terbiasa banyak makan. Ketika kita sudah terbiasa mengisi perut saat mulai keroncongan, maka menunda sesaat saja untuk tidak makan itu hal yang menyusahkan. Bahkan—bisa jadi—hal ini akan berakibat terhadap ketidak-stabilan kondisi tubuh kita, kemungkinan tubuh akan melemah atau bahkan bisa saja jatuh sakit.

Oleh karena itu, sebaiknya kita menjalaninya dengan bertahap, bukan dengan cara yang langsung dalam seketika. Bertahap di sini adalah mengurangi porsi makanan kita sedikit demi sedikit, sehingga perut kita bisa beradaptasi dengan baik. Hingga akhirnya perut kita bisa kenyang dengan makanan yang sedikit, (halaman 198).

Buku terbitan Mizan Pustaka ini tidak hanya membahas tentang bagaimana cara menaklukkan nafsu, akan tetapi di dalamnya juga dijelaskan beberapa metode untuk mendidik anak dan mengobati penyakit hati versi kaum sufi. Ratusan referensi dan indeks umum yang diletakkkan di bagian belakang menambah kekomplitan buku setebal 344 halaman ini.

Walaupun buku terjemahan, penerjemah berusaha menguraikannya dengan bahasa yang ringan dan runtut, agar pembaca tidak mengalami kekaburan dalam memahami isi buku ini. Jadi, buku ini tidak hanya cocok dibaca oleh orang-orang dewasa yang ingin menyelami dunia para sufi, tetapi anak-anak Sekolah Dasar pun bisa memahami isi buku ini, atau bahkan mengamalkannya. Siapapun yang mampu mengamalkan isinya, dia—dengan idzin-Nya—akan menemukan ketenangan dan ketenteraman dalam menjalani hidup.

Description
Reviews
SAME DAY SHIPPING
Pengiriman langsung dilakukan pada hari pemesanan
Copyright ©.
Lapak Buku (Labu) - Toko Buku Online Allright reserved.
Support by Achmad Rifai Proudly by Blogger