top

Rahasia Kehidupan Seks Para Diktator Besar

Rp 67.000

Rp 60.000


Rahasia Kehidupan Seks Para Diktator Besar

Penulis : Nigel Cawthorne
Penerbit : Alas Publishing, 2007
Tebal : 300 halaman
Kondisi: Stok Lama

orderPEMESANAN
Hubungi Kami di Contact
antarPENGIRIMAN
Barang Dikirim ke Rumah Anda

Pada usia ketujuh puluh, dalam menjelaskan kisah suksesnya dengan para wanita, diplomat keliling Henry Kissinger pernah berkata: ‘Kekuasaan adalah perangsang nafsu yang paling hebat.’
Dalam suratnya kepada seorang uskup, sejarawan Liberal Lord Acton menulis aforisme tersebut: ‘Kekuasaan cenderung korup dan kekuasaan absolut benar-benar membuat pemimpin korup.’
Di antara keduanya, terdapat ruang lingkup yang luas bagi rata-rata diktator Anda untuk memanjakan dirinya sendiri. Memang tidak semuanya mengusik Anda. Jenderal Pinochet dari Chili adalah seseorang dengan reputasi paling tinggi – tentu saja sebagai manusia dia tak terlepas dari berbagai kekurangan. Anda mungkin mengatakan bahwa dia memimpin sebuah rejim kejam yang melakukan dan menganggap pembunuhan, penyiksaan dan pemenjaraan yang salah terhadap lawan-lawan politik sebagai bentuk seni, namun sebagai pria yang memiliki isteri, dia tidak pernah berpaling kepada wanita lain.
Dan bagaimana dengan presiden Mesir yang brengsek itu? Ternyata dia seorang suami yang mengagumkan perihal kesetiaannya.

Perhatikan Generalissimo Franco, diktator Spanyol yang memerintah dari tahun 1939 hingga meninggalnya pada 1975. Sebagai pemuda, perhatiannya terhadap para gadis normal-normal saja, yang mengagumi gadis-gadis ramping berambut coklat utamanya dari teman-teman sekolah adik perempuannya. Dia menulis puisi kepada mereka dan merasa malu ketika puisi-puisinya diperlihatkan kepada saudara perempuannya.

Setelah bergabung dalam angkatan bersenjata dan dikirim ke Maroko, dia menjalin asmara serius dengan Sofia Subirán, anak perempuan cantik dari Komisaris Tinggi, Jenderal Luis Aizpuru. Selama hampir setahun, dia melayangkan banyak sekali surat cinta kepadanya. Tetapi ketidakmampuannya berdansa dan sikap formalnya yang kaku membuat sang pacar memutuskan jalinan asmara itu.
Selama perang Maroko, perut bagian bawahnya terluka kena peluru. Sebagian orang berspekulasi bahwa itulah yang menjadi alasan mengapa dia kurang tertarik terhadap seks.

Setelah ditempatkan di dalam negeri di Oviedo, dia bertemu dengan seorang gadis lokal dengan tubuh semampai dan bermata gelap bernama María del Carmen Polo y Martínez Vald és. Usia gadis itu baru lima belas tahun; sementara dia telah berusia dua puluh empat tahun. Meskipun ditentang oleh keluarga si gadis, dia mulai menulis surat kepadanya di biara. Ketika dia sampai usia dewasa pada tahun 1923, mereka menikah. Bagi Carmen, itu merupakan mimpi yang menjadi kenyataan. Lima tahun kemudian dia berkata: ‘Rasanya saya sedang bermimpi atau membaca sebuah novel tentang diriku.’
Itulah perkawinan yang stabil, jika bukan perkawinan yang mesra. Mereka dikaruniai seorang anak perempuan, Nenuca, yang lahir pada tahun 1926. Rumor yang terus-menerus berhembus adalah bahwa Nenuca bukan anak mereka, melainkan anak dari saudara laki-laki Franco, Ramón, yang terkenal suka menggauli wanita siapa saja. Bagaimana pun juga, sebagaimana berlaku di negara-negara latin Franco tidak berhasrat memiliki anak laki-laki, sehingga ketika dia meninggal, tidak ada seorang anakpun yang menggantikannya.

Pada tahun 1936, dia diejek sebagai ‘Miss Canary Islands’ – tetapi ejekan ini disebabkan keraguannya dalam mendukung kudeta militer terhadap pemerintah, bukan sebagai refleksi kecenderungan seksualnya.

Lambat laun Franco dan isterinya berpisah. Setelah El Caudillo – sang pemimpin – berkuasa, dia tampak murung dan tidak bisa berdampingan dengan Dońa Carmen. Kelihatannya mereka berdua sudah tidak menganggap diri mereka sebagai sepasang kekasih satu sama lain. Dia lebih suka bermain kartu atau memancing. Mereka masih terikat tali pernikahan ketika Franco meninggal lima puluh dua tahun kemudian. Kehidupan seorang diktator benar-benar dapat membosankan.

Dan siapa yang ingin tahu bagaimana gaya kehidupan ranjang seorang monster seperti Pol Pot – pemimpin totaliter Kamboja yang menyebabkan kematian tiga juta penduduknya sendiri?
Sebenarnya tidak begitu mengesankan. Isteri pertama Pol Pot adalah seorang guru, delapan tahun lebih tua daripada dirinya. Di belakang sang guru, murid-muridnya menjulukinya ‘perawan tua’. Mereka bertemu ketika mereka berdua sedang belajar di Perancis. Perkawinan itu mengherankan teman-temannya. Beberapa pria Kamboja menikah dengan wanita yang lebih tua. Isterinya adalah seorang wanita yang bersikap revolusioner dan mendukung skema pembantaian yang digagas suaminya untuk mengembalikan Kamboja ke ‘Tahun Nol’. Setelah dia diturunkan dari kekuasaannya oleh tentara Vietnam, isterinya mengalami kelumpuhan syaraf. Atas ijinnya, dia menikah lagi – kali ini, sesuai dengan komitmen ideologisnya, yang dia pilih bukan seorang intelektual melainkan seorang petani. Pada 1988, isteri keduanya memberinya anak yang pertama. Pol Pot, Anda pasti akan senang mendengar ceritanya, adalah seorang ayah yang sangat penyayang dan seringkali dia terlihat menggendong bayinya
saat mengisi sesi-sesi pelatihan kader – yang hanya membuktikan bahwa dia tidak pernah mempercayai seorang politisi yang menciptakan nilai-nilai keluarga.

Namun demikian, hal-hal yang membosankan adalah pengecualian. Renungkan ini. Anda seorang diktator. Anda memerintah jutaan rakyat. Ucapan Anda adalah hukum. Godaan untuk memanfaatkan kekuasaan Anda yang tidak terbatas pasti sangat besar.

Tengok Presiden Sukarno dari Indonesia, seorang presiden otoriter yang percaya terhadap ‘demokrasi terpimpin’. Seperti kebanyakan pemimpin anti kolonial yang sejaman dengan dirinya, dia menghabiskan banyak masa mudanya di penjara di mana, barangkali, kehidupan seksualnya terkebiri. Tetapi begitu berkuasa, dia melampiaskan dahaga seksualnya sepuas-puasnya. Genap usia enam puluh tahun, dia adalah penakluk wanita yang luar biasa, sebagai dalih untuk mengganti waktunya yang hilang. Majalah-majalah Amerika menjulukinya ‘skirtchaser’ (pemburu wanita) dan ‘lecher’ (orang yang mudah melepaskan nafsu birahi). Koran-koran Perancis menyebutnya ‘le grand seducteur’ dan para wartawan Inggris mengaku bahwa, selain delapan anak-anaknya yang sah, dia masih mempunyai seratus anak lagi.

Selama masa kanak-kanaknya, Sukarno memperoleh rasa aman di ranjang Sarinah, pembantu rumah tangga, dan menghabiskan sisa-sisa hidupnya dengan berusaha memperolehnya kembali di ranjang para wanita lainnya.

Banyak dari pendidikan politiknya yang pertama diperolehnya dengan mengencani gadis-gadis Belanda. Pada usia dua puluh tahun, dia menikah yang pertama kalinya dengan Inggit. Usia isterinya sebelas tahun lebih tua darinya harus menceraikan suami pertamanya demi untuk menikah dengan Sukarno. Dia mendukungnya dan memberinya kepercayaan diri selama tahun-tahun perjuangannya. Tetapi setelah tujuh belas tahun perkawinan, dia memutuskan bahwa isterinya mandul dan menikah dengan seorang model muda bernama Fatmawati.

Setelah revolusi, dia menikah dengan Hartini. Begitu kekuasaan semakin kokoh, gairah seksualnya lebih merajalela. Dia menikah dua kali lagi – Dewi, seorang gadis bar Jepang yang sangat berbakat yang bertemu dengannya di Tokyo pada tahun 1959, dan Yurike Sanger, yang secara formal tidak dapat dia nikahi karena menurut ajaran Islam dia telah memiliki empat isteri.

Atletikisme seksualnya membuat dirinya banyak dikagumi banyak wanita sekaligus membuatnya memiliki reputasi yang buruk. Pada usianya yang kelima puluh, dia seorang playboy. Ketika berusia enam puluh tahun, dia adalah seorang pemikat wanita yang paling buruk. Bagaimana pun juga, kenyataan itu telah mengundang celaan dari berbagai elemen yang lebih konservatif dan membantu mempercepat kejatuhannya.

Bahkan para diktator yang benar-benar memuakkan seperti keluarga Ceausescu bersemangat kembali di bawah mikroskop seksual. Elena Ceausescus bekerja di sebuah bar yang sekaligus menjadi rumah bordir ketika dia pertama kalinya datang di Bucharest dari pinggiran desa saat masih remaja. Saudara laki-laki Nicholae Ceausescu, Nicholae-Andruta, menyatakan bahwa suatu hari pada tahun 1943 dia menemukan isterinya dan Elena telanjang dengan dua orang pejabat Jerman. Pada waktu itu Nicholae sedang dipenjara.

Tampaknya Elena memiliki gairah seksual yang jauh lebih besar daripada Nicholae, yang tidak pernah memiliki pacar sebelum dia menikah. Begitu mereka berkuasa, mata-mata istana mengatakan bahwa Elenalah yang selalu memulai seks.

Nicholae tidak segan menginstruksikan kepada para mata-mata untuk menggunakan perangkap seksual; Nicholae dan Elena nonton film-film biru bersama-sama – khususnya film-film karya dinas intelijen Romania yang memperlihatkan para diplomat Barat dalam tawar-menawar jabatan. Bagaimana pun Nicholae tampak malu. Dia lebih suka nonton Kojak.

Elena juga terobsesi dengan dosa-dosa seksual kecil para isteri Politburo. Dia meminta dinas intelijen Romania untuk merekam mereka sehingga dia dapat mendengarkan rintihan-rintihan yang mereka lepaskan saat sedang bercinta.

Anak laki-laki mereka, Nicu, adalah seorang monster seksual. Nicholae Ceausescu memujinya karena telah mencapai usia baligh pada usia empat belas tahun dengan memperkosa seorang teman kelas. Nicu telah terbiasa melakukan pemerkosaan di sekitar Bucharest dan tak seorang pun berani berbuat sesuatu untuk menghalanginya.

Runtuhnya Komunisme harus dibayar mahal oleh keluarga Ceausescu dan para diktator Eropa Timur. Bahkan di Amerika Selatan, demokrasi mulai berkembang.

Description
Reviews
SAME DAY SHIPPING
Pengiriman langsung dilakukan pada hari pemesanan
Copyright ©.
Lapak Buku (Labu) - Toko Buku Online Allright reserved.
Support by Achmad Rifai Proudly by Blogger