top

Sunan Kalijaga: Mistik dan Makrifat

Rp 88.000

Rp 82.000


Sunan Kalijaga: Mistik dan Makrifat

Penulis: Achmad Chodjim
Penerbit: Serambi, 2013
Tebal: 371 halaman
Kondisi: Baru Segel

orderPEMESANAN
Hubungi Kami di Contact
antarPENGIRIMAN
Barang Dikirim ke Rumah Anda

Berbincang tentang Raden Syahid atau yang lebih populer kita kenal dengan nama Sunan Kalijaga adalah diskursus yang tak pernah selesai. Bagi sebagian kalangan, Kanjeng Sunan merupakan sosok yang berperan besar dalam menyebarkan Islam lewat jalur budaya sehingga kearifan lokal tidak tergerus dan tetap terjaga. Namun, sebagian yang lain beranggapan bahwa justru ajaran yang disebarkan oleh sunan dari Tuban itu merupakan salah satu ancaman terhadap "kemurnian Islam".

Sunan Kalijaga memang sosok yang fenonemal, sehingga tak habis-habis ajarannya diulas dalam berbagai buku. Salah satunya adalah buah karya Achmad Chodjim, yang berjudul Mistik dan Makrifat Sunan Kalijaga. Buku setebal 371 halaman ini mengupas ajaran dan kearifan beliau dalam berdakwah dan menyebarkan agama Islam yang selama ini oleh sebagian kalangan dianggap sebagai perkara bid'ah.

Dalam bab "Kandungan Kidung Rumeksa Ing Wengi (Perlindungan Pada Malam Hari)", Chodjim, spesialis menulis buku-buku tasawuf, mencoba untuk mengelaborasi kidung yang saat ini masih dipakai oleh masyarakat petani, khususnya di wilayah Jawa bagian utara. Menurut Chadjim, Kidung Rumeksa Ing Wengi sejatinya merupakan intisari dari surat An-Nas dan Al-Falaq yang digunakan oleh Nabi Muhammad sebagai surat untuk pengobatan, baik pengobatan fisik maupun non-fisik. Nabi pernah membacakan surat-surat tersebut kepada sahabatnya yang terkena tenung.

Islam, sebagai agama yang disebarkan oleh Sunan Kalijaga, ditransformasikan sesuai dengan budaya masyarakat setempat tanpa mengubah esensinya. Islam, yang mulanya terasa asing bagi masyarakat Jawa, perlahan diubah nuansanya oleh Sunan Kalijaga, sehingga mereka tertarik dan memilih Islam sebagai jalan keselamatan.

Pada mulanya, Islam ditawarkan sebagai cara mencari keselamatan lahiriah, nyata, dan langsung bisa dirasakan oleh siapa pun pemeluknya. Karena itu, kemudian Sunan mengajarkan kepada masyarakat Jawa yang masih awam untuk membaca Kidung Rumeksa Ing Wengi, sebagai penerjemahan dari kedua surat dalam Al-Quran yang telah disebutkan tadi. Cara yang ditempuh Sunan Kalijaga ternyata berkenan di hati masyarakat Jawa, sehingga Islam cepat menyebar di semua lapisan.

Pada bab lain, Chodjim juga berusaha mendudukkan tauhid dan syirik versi Sunan Kalijaga. Dalam bagian, yang diberi judul "Tauhid versus Syirik" itu, penulis mencoba menganalogikan berbagai "laku tarekat" yang diajarkan Sunan kepada para pengikutnya sebagai bagian dari sunnah yang dilakukan oleh para nabi dan orang-orang saleh. Semisal puasa mutih, puasa yang hanya memakan nasi dan air putih saja, tidak mengonsumsi garam dan segala sesuatu yang bernyawa (seperti daging, telur, dan susu).

Chodjim menulis, "Mari kita pahami ajaran puasa mutih ini dengan pikiran tenang dan jernih. Orang yang mutih sebenarnya orang yang sedang berjuang mengendalikan hawa nafsunya. Bukan ibadah wajib, melainkan wajib untuk kebaikan diri sendiri." Chodjim menguatkan pendapatnya dengan sebuah hadis dari Sahabat Jarir yang diriwayatkan oleh Imam Muslim: "Barangsiapa yang merintis jalan kebaikan dalam Islam, maka dia memperoleh pahala dari orang yang mengikuti jalannya tanpa mengurangi sedikit pun pahala yang bersangkutan."

Chodjim mengulas ajaran-ajaran Sang Sunan dengan bahasa yang sangat sederhana, tidak menggurui, tidak juga berusaha membenarkan pendapat sendiri. Kesimpulan akhir tetap ada di tangan pembaca, tentang bagaimana dan seperti apa sosok dan ajaran Sunan Kalijaga.

Description
Reviews
SAME DAY SHIPPING
Pengiriman langsung dilakukan pada hari pemesanan
Copyright ©.
Lapak Buku (Labu) - Toko Buku Online Allright reserved.
Support by Achmad Rifai Proudly by Blogger