top

Tragedi Setan: Iblis dalam Psikologi Sufi

Rp 105.000

Rp 95.000


 Tragedi Setan: Iblis dalam Psikologi Sufi

Judul: Tragedi Setan: Iblis dalam Psikologi Sufi
Penulis: Peter J. Awn
Penerbit: Bentang Budaya, 2000
Tebal: 426 hlm
Kondisi: Stok Lama

orderPEMESANAN
Hubungi Kami di Contact
antarPENGIRIMAN
Barang Dikirim ke Rumah Anda

Iblis yang penuh semangat dan beraneka segi, sebagaimana yang diperlihatkan oleh buku Peter J. Awn, akan terus menggoda atau setidak-tidaknya mengganggu manusia sehingga sebagaimana Iqbal kemukakan (setelah Goethe) akan membentuk prinsip gelisah dalam hidup manusia yang tanpa itu perkembangan spiritual yang sebenarnya tidaklah akan terjadi. Iblis mampu membuat manusia menyadari beberapa tingkat pengalaman yang lebih dalam dan pada saat yang sama memberi suatu pandangan baru ke dalam masalah internal dari teologi dan juga sejarah agama. Yaitu bagaiman menjelaskan peranan setan dan bagaiman menanggulanginya.

Pencitraan yang dilakukan para mistikus muslim atas sosok iblis seperti yang diretas Awn dalam buku ini memang suatu yang menarik. Sebab meski sejarah keberangkatannya sama, ternyata memunculkan dua pencitraan yang tidak saja berbeda, tetapi saling bertolak belakang. Buku yang mulanya berupa tesis doktoral di Universitas Harvard pada 1978 ini dengan apik telah membongkar dua pencitraan itu. Sebagai peneliti, Awn menghindar dari keterlibatan dalam dua pencitraan yang saling kontradiktif itu. Ia hanya hendak menjelaskan logika berpikir yang digunakan para mistikus dalam pencitraannya atas sosok Iblis tersebut dan sekaligus ingin menunjukkan bahwa iblis di mata mistikus ternyata tidak hanya diidentikkan dengan klaim pembangkangan, tetapi juga diklaim sebagai sang monoteistik sejati.

Jadi, siapa sebenarnya Iblis ini? Saya yakin, selama ini kita mengenal sosok Iblis ini dari kutipan kitab suci dan petuah bijak para nabi. Selain tentu saja informasi ini diperbarui dengan aneka film dan cerita tentang para Iblis ini. Kutipan, omongan, cerita fiksi pun non fiksi inilah yang membentuk alam kesadaran kita tentang siapa sebenarnya Iblis. Sulit juga mem-visual-kan Iblis ini dalam tiga dimensi. Apakah dia bertampang seram, berkulit merah, berambut api, atau yang lain? Apakah setan pocong, kuntilanak, genderuwo, itu termasuk dalam kategori Iblis?

Seorang Islam formal ortodoks, akan memberikan definisi bahwa secara umum bahwa Iblis memang dilekatkan dengan klaim citra tentang laku pembangkangan seorang makhluk pada kehendak dan titah Tuhan, serta penggoda iman manusia, pembius hati manusia menuju jalan kesesatan. Dan kalau ditanya lebih jauh tentang sosok Iblis pasti akan mengutip sebuah ayat: "Sesungguhnya Iblis itu adalah musuh yang nyata bagimu". Dari beberapa klaim ini, sebenarnya belum ada titik terang yang menerangkan siapa gerangan sosok Iblis ini.

Memang tak terhitung Hadits Rasulillah yang menyinggung tema yang enigmatik seputar Iblis. Salah satunya adalah penyebutan ketika Iblis menetaskan tujuh telur yang masing-masing berujud tujuh bocah Iblis sebagai bala tentara terpilih yang berjuluk Mudahhish, Hasist, Zalanbur, Miswat, Dasim dan A'war. Mereka bersemayam di pasar, perempuan sundal, kamar mandi, puisi, dan tempat-tempat maksiat.

Ketujuh keturunan Iblis ini, menurut Al Muhasibi, harus senantiasa diwaspadai dalam ruang tergelap kalbu manusia. Karena, sebagaimana diwejangkan Kanjeng Nabi, "Sesungguhnya Iblis itu melarutkan tipu liciknya dalam aliran darah manusia". Legenda tentang Iblis yang bermuasal dari Al-Quran juga literatur Hadits selanjutnya menjadi topik sentral di mana benih-benih biografi Iblis meruah dalam pelbagai kajian. Di antaranya pada sekisar dramatisasi penolakan dan godaannya terhadap Adam dan Hawa juga para nabi sesudahnya. Iblis yang riwayatnya pernah menggegerkan takhta akhirat itu tentu dicatat dengan tinta merah oleh kebanyankan kaum beriman sebagai musuh terbesar nan terkutuk.

Namun sebaliknya, misteri pembangkangan dan selubung remang-senyap kepribadian Iblis justru menggelindingkan setampuk wacana diskursif bahwa pada dirinya sejak azali tersemat misteri lain yang menggelontorkan inklusivisme dan dialektika yang paradoksal dan, lantaran itu, menjadi kontroversial. "Dialah makhluk yang lebih bersifat monoteistik ketimbang Tuhan itu sendiri," begitu komentar Iqbal seraya menirukan kegundahan Attar dalam kitabnya Mazharul Aja'ib.

Bahkan Al Hallaj justru mengakui tanpa tedeng aling-aling saat ia berkata dalam Tawasin-nya, "Guru spiritualku adalah Iblis dan Fir'aun". Tentunya paham-paham seperti ini timbul karena pemahaman dan penafsiran yang mendalam atas pembangkangan Iblis. Pembangkangan yang dilakukan Iblis terhadap perintah Tuhan untuk bersujud kepada Adam, oleh sebagian sufi justru dipandang sebagai bentuk sikap yang muncul dari proses kesadaran monoteistik sejati (penunggalan Tuhan). Sebut saja misalnya sederet mistikus bersama karya mereka: Ibnu Ghanim (Taflis Iblis), Al-Hallaj (Tawasin), Attar (Musibatnama, Lisanul Ghayb), 'Ainul Qudhat (Tamhidat), Al-Junaid (Kitabul Fana'), Ibnu Munawar (Asrarul Tauhid), Al-Makki (Qut al-Qulub), Al-Baqli (Masrabul Arwah), Sana'i (Haqiqatul Haqiqah), Abu Nuaim (Hilyatul Auliya'), Ibnu Arabi (Ruhul Quds), hingga Iqbal di mana Hellmut Ritter kerap mengulas fenomena tragis Iblis dalam bebaris puisi Javid Nama-nya.

Buku ini ditulis oleh Peter J. Awn, salah satu murid Annemarie Schimmel yang kita tahu bersama adalah seorang teolog dengan karya-karya yang mendunia. Dalam buku ini dikisahkan beberapa sejarah Iblis dari beberapa versi dan penafsiran Iblis dari beberapa tokoh sufi. Dalam penutupnya, Peter menjelaskan, bahwa buku ini belum tuntas untuk membahas seorang Iblis yang sebenarnya. Oleh karenanya masih dibutuhkan kajian yang mendalam dan rujukan sumber yang lebih luas untuk memberikan tafsiran yang tepat tentang sosok Iblis.

Fokus dari kajian Setanologi dalam buku ini adalah Iblis merupakan simbol yang sempurna dari metode ekspresi spiritual. Karena intensitas citra kontemplatifnya, Iblis menjadi model ketaatan monoteistik. Namun, dedikasinya terhadap pikiran monoteistiknya itu telah menggerakan dirinya untuk tidak mematuhi perintah Tuhan bersujud kepada Adam.

Al Ghozali memberikan satu ilustrasi tentang alasan penolakan Iblis untuk bersujud di hadapan Adam (berupa percakapan antara Iblis dan Musa, terdapat dalam kitab al-qussas wal-mudzakkirin:

"Tidak pernah! Aku tidak akan pernah bersujud kepada seorang manusia. Wahai Musa, engkau mengaku mengalami penyatuan dengan Allah, tetapi akulah monoteis yang sebenarnya yang tidak pernah memberikan perhatian kepada yang lain selain Dia. Engkau berkata kepada Allah, "Pandanglah aku!" Tetapi engkau memandang ke arah gunung. Aku lebih beriman daripada engkau dalam monoteisme. Dia berkata kepadaku, "Sujudlah kepada yang lain!" Aku tidak bersujud, tetapi engkau berpaling untuk melihat. Dan Musa berkata kepadanya, "Bentuk lahirmu telah berubah dari bentuk malaikat menjadi bentuk setan". Dia menjawab: "Bentuk itu berubah dan akan terus berubah. Wahai Musa, setiap saat Dia menambahkan cinta-Nya untuk seseorang yang selain aku, aku akan meningkatkan cintaku untuk-Nya. Musa bertanya kepada iblis, "Apakah kau masih mengingat-Nya?" Iblis menjawab. "Aku adalah seseorang yang diingat, yang Dia selalu mengingat: "Bagimu kutukan-Ku! Tidakkah Dia telah menggabungkan 'Aku' dalam kutukan-Ku dan 'engkau' dalam bagimu di dalam pernyataan kutukan itu?" Dan Al Ghozali berkata, "Ketika Iblis diusir, dia tak mengurangi ketaatannya, tidak juga cintanya, dan tidak juga dzikir-nya ke dalam cara yang lebih rendah".

Dari cerita ini, dapat kita ambil pelajaran bahwa Allah mengutuk Iblis karena penolakan dan memisahkan dirinya dari Alam Ketuhanan. Karena Yang Maha Pengasih berkenan untuk memandangnya sekalipun pandangan itu berupa sebuah kutukan, Iblis menerima kehancurannya itu seperti sebuah mahkota kesyahidan. Bagi Iblis, kutukan adalah makanan kehidupan, dan kemurahan Allah adalah racun. Iblis yang dengan bebas memilih penderitaan -karena jauh dari Allah- menyadari bahwa pemisahan lebih dia sukai karena hal itu merupakan pemenuhan keinginan Tuhan dan bukan keinginan dirinya yang egois.

Usaha untuk merehabilitasi 'nama baik' Iblis ini dilakukan oleh kaum mistikus sufi. Seperti yang dirumuskan Al-Hallaj. Bagi Al-Hallaj, hanya ada dua monoteis di dunia ini: Muhammad dan Iblis. Tetapi Muhammad merupakan harta berharga rahmat Illahi, sedangkan iblis menjadi harta kemurkaan Illahi. Dalam teori Al-Hallaj, kehendak Allah yg kekal ialah "Tidak ada yang disembah selain Allah". Dan Iblis menolak menghormati seorang makhluk ciptaan, sekalipun ada perintah secara jelas dari Allah. Al-Hallaj menerjemahkan protes Iblis itu dalam kwatrin yang terkenal: "Pemberontakanku berarti memaklumkan Kau Kudus".

Nah, buku ini memang menyisakan pertanyaan besar seputar hubungan Iblis dan Tuhan. Peter A. Jawn mengutip pendapat dari R.C. Zaehner dalam Our Savage God, peran Iblis adalah sebagai instrumen Tuhan dalam celah-ceruk probabilitas amr dan iradah-Nya. Karena instrumen Iblis tak lain menebarkan penderitaan dan kerusakan, kendati semua tanggung-jawabnya terkembali pada Tuhan. Maka, pertanyaan yang muncul kemudian apakah Tuhan terlibat atas kebejatan yang dilahirkan Iblis? Tetapi mengapa Tuhan tidak mengendalikan Iblis dan mencegah penyebaran kejahatannya? Sebab, bagi Zaehner, masih ada kejahatan dalam hati Tuhan yang paling rahasia. Dia-lah Al-Rahman sekaligus saevus dues, Yang Maha Pengasih juga Yang Maha Kejam dan Penghancur yang menakutkan.

Description
Reviews
SAME DAY SHIPPING
Pengiriman langsung dilakukan pada hari pemesanan
Copyright ©.
Lapak Buku (Labu) - Toko Buku Online Allright reserved.
Support by Achmad Rifai Proudly by Blogger