top

Ziarah Ke Alam Barzakh

Rp 82.000

Rp 75.000


Ziarah Ke Alam Barzakh

Penulis: Imam Jalaluddin As-suyuthi
Penerbit: Pustaka Hidayah, 2005
Tebal: 416 Hlm (hard cover)
Kondisi: Stok Lama

orderPEMESANAN
Hubungi Kami di Contact
antarPENGIRIMAN
Barang Dikirim ke Rumah Anda

Kebanyakan buku memerihalkan soal kematian dari segi pengurusan jenazah, amalan bida'ah yang berkaitan dengan pengurusan jenazah dan kubur, dan persediaan menghadapi mati. Sangat sedikit yang membicarakan betapakah kehidupan di alam barzakh.

Buku ini menjelaskan sekian banyak jawaban terhadap persoalan tentang seluruh realitas yang mungkin dijumpai di alam barzakh, hal-hal sebelum dan selepas kematian, dan perihal malaikatulmaut dalam menjalankan tugasnya.

Selain memperingatkan diri sendiri tentang kematian, turut menjadi semacam pedoman bonus ialah fadilat membaca surah Al-Quran selain Yasin, yang amat jarang diperkatakan. Contohnya ialah surah Al-Sajadah dan surah al-Mulk. Persoalan ruh juga turut dibicarakan, yang dipetik dari kitab Ar-Ruh karangan Ibnu al-Qayyim, di penghujung buku ini.

Ungkapan bernas yang ada di buku ini ditampakkan lebih merupakan peringatan ketimbang pelajaran. Mengingat, Rasul yang mulia sepertinya hendak mengingatkan kita bahwa hidup ini tidak lebih dari sekadar "mimpi" sesaat. Kita akan benar-benar terjaga justru setelah kita mati. Saat itu, kita akan sadar bahwa kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan setelah kematian. Dalam konteks ini, memahami "realitas" kehidupan pasca-kematian akan senantiasa relevan dan signifikan bagi setiap Muslim.
Tujuannya bukanlah semata-mata memahami makna kehidupan pasca kematian itu, melainkan juga lebih penting lagi---memaknai hakikat kehidupan di alam fana ini.
Manusia sesungguhnya tertidur; ketika mati, mereka terjaga (an nas niyam; fa-idza mutu, intabahu). Demikian sabda Rasul yang mulia. Ungkapan bernas ini tampaknya lebih merupakan peringatan ketimbang pelajaran. Rasul yang mulia sepertinya hendak mengingatkan kita bahwa hidup ini tidak lebih dari sekadar "mimpi" sesaat. Kita akan benar-benar terjaga justru setelah kita mati. Saat itu, kita akan sadar bahwa kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan setelah kematian. Dalam konteks ini, memahami "realitas" kehidupan pasca-kematian akan senantiasa relevan dan signifikan bagi setiap Muslim. Tujuannya bukanlah semata-mata memahami makna kehidupan pasca kematian itu, melainkan juga--lebih penting lagi--memaknai hakikat kehidupan di alam fana ini.

Lewat buku ini, Imam Jalaluddin as-Suyuthi mencoba mengajak kita melakukan semacam "ziarah" ke alam barzakh---sebuah alam penantian penuh misteri pasca-kematian yang diyakini akan menentukan nasib setiap manusia dalam menuju terminal akhir kehidupan akhiratnya; surga atau neraka.

Buku di tangan pembaca ini berbicara tentang seluruh "realitas' yang mungkin dijumpai di alam barzakh. Di dalamnya diuraikan banyak hal: masalah kematian, keutamaan dan metodenya, sifat malaikat maut dan bala tentaranya, perkara yang dapat memalingkan orang menjelang sakratulmaut, keadaan ruh setelah meninggalkan jasad, kondisi di alam kubur, fitnah, siksaan, dan sebagainya. Semuanya itu disajikan dalam pembahasan yang cukup menarik dan sarat dengan muatan sufistik. Karenanya, buku ini sangat penting dibaca sebagai bahan kontemplasi bagi siapa saja yang ingin mengarungi kehidupan ini secara lebih bermakna.

Buku ini berbicara tentang alam barzakh yang sangat didambakan jiwa umat manusia. Di dalamnya penulis menguraikan masalah kematian; keutamaan dan metodenya; sifat Malaikat maut dan balatentaranya; perkara yang dapat memalingkan orang menjelang sakratulmaut; keadaan ruh setelah meninggalkan jasad, lalu naik ke hadirat Allah SWT, berkumpul bersama ruh-ruh lainnya, dan akhirnya bersemayam; serta kondisi di alam kubur, fitnah, siksaan, dan ruang yang sangat sempit.

Semua itu disajikan melalui pembahasan yang dimulai dari gambaran tentang keadaan rasa sakitnya sakratulmaut sampai ditiupnya sangkakala, dengan didasarkan pada hadis-hadis marfû, mawqûf, dan maqthû, yang diperoleh dari beberapa buku hadis; juga disandarkan para pendapat para ahli hadis yang disertai dengan beberapa tambahan.

Banyak hadis yang bisa kita temukan di buku ini, yang menerangkan semua itu, misalnya: Abu Hurayrah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW. Pernah bersabda, “Berziarah kuburlah kalian, karena hal itu dapat mengingatkan kalian pada kematian.” (H.R. Muslim).

Ibn Mas’ud menuturkan bahwa Rasulullah SAW. Bersabda, “Aku pernah melarang kalian berziarah kubur. Sekarang berziarahlah kalian, karena sesungguhnya hal itu bisa menjadikan kalian zuhud di dunia dan mengingatkan kalian akan akhirat.” (H.R. Ibn Majah dan Al-Hakim).

Abu Sa’id meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW. Pernah Bersabda, “Aku pernah melarang kalian berziarah kubur. Sekarang berziarahlah, karena hal itu mengandung pelajaran.” (H.R. Al-Hakim).

Anas r.a meriwayatkan hadis marfu’, bahwa Rasulullah SAW. Bersabda, “Aku pernah melarang kalian berziarah kubur. Sekarang berziarahlah kalian, karena sesungguhnya hal itu dapat melembutkan hati, membuat mata menangis, dan mengingatkan kehidupan akhirat. Akan tetapi, janganlah kalian mengatakan perkataan keji.”

Rasulullah SAW. Bersabda, “Aku pernah melarang kalian berziarah kubur. Sekarang berziarahlah kalian, dan jadikanlah ziarah kalian itu menambah kebaikan.” (H.R. Buraydah).

Abu Dzar menuturkan bahwa Rasulullah SAW. Pernah berkata kepadanya, “Berziarah kuburlah hingga dengannya engkau akan mengingat akhirat, mandikanlah jenazah karena mengurus jasad yang telah mati merupakan nasihat yang baik, dan salatlah atas suatu jenazah hingga hal itu dapat membuatmu sedih, karena orang yang sedih dan berada dibawah naungan Allah akan mendapatkan segala macam kebaikan.”

Description
Reviews
SAME DAY SHIPPING
Pengiriman langsung dilakukan pada hari pemesanan
Copyright ©.
Lapak Buku (Labu) - Toko Buku Online Allright reserved.
Support by Achmad Rifai Proudly by Blogger