top

Tafsir Fenomenologi Hassan Hanafi

Rp 47.000

Rp 42.000


Tafsir Fenomenologi Hassan Hanafi

Judul: Tafsir Fenomenologi
Penulis: Dr. Hasan Hanafi
Penerbit: Titian Ilahi Press, 2001
Tebal: 98 Halaman
Kondisi: Stok Lama

orderPEMESANAN
Hubungi Kami di Contact
antarPENGIRIMAN
Barang Dikirim ke Rumah Anda

Hassan Hanafi menerapkan metode fenomenologi diterapkan pada filsafat agama (mediasi dan konsep, kemudian pada fenomenologi agama (dogma, obyek, aksi) dan akhirnya pada fenomenologi tafsir.

Salah satu pemikir muslim kontemporer yang menggunakan metode hermeneutika dalam teori penafsiran Al-Qur’an adalah Hassan Hanafi. Ia adalah doktor bidang filsafat di Universitas Kairo Republik Arab Mesir yang menyelesaikan studi dan mendapatkan gelar Doktoralnya dari universitas Sorbon Paris. Dalam pemikirannya mengenai konsep hermeneutika Al-Qur’an, Hassan Hanafi dapat disejajarkan dengan tokoh pemikir Islam yang lain seperti Mohammed Arkoun, Abid Al-Jabiry, Nasr Hamid Abu Zaid, Fazlurrahman dan lain-lain.

Hanafi menawarkan pendekatan sosial dalam menafsirkan Al-Qur’an (al-manhaj al-ijtimā’ī fī at-tafsīr). dengan metode tafsir Al-Qur’an seperti ini, menurut Hanafi, seorang mufassir yang ingin mendekati makna Al-Qur’an tidak saja mendeduksi makna dari teks, tapi sebaliknya, dapat juga menginduksi makna dari realitas kedalam teks.

Seorang mufassir bukan hanya menerima, tapi memberi makna. Ia menerima makna dan meletakannya dalam struktur rasional dan nyata.

Teori penafsiran seperti ini bertentangan dengan konsep penafsiran yang telah mapan dan disepakati para ulama terdahulu. Yaitu, realita mendeduksi makna dari teks.

Lebih lanjut, Hanafi mengembangkan teori hermeneutikanya melalui pendekatan fenomenologi yang ia adopsi dari teori fenomenologi Edmund Husserl. Menurutnya, ada lima tahapan yang harus dilakukan seorang mufassir dalam melakukan penafsiran Al-Qur’an. Langkah-langkah tersebut adalah: pertama, wahyu diletakan dalam ”tanda kurung” (epoche), tidak diafirmasi, tidak pula ditolak. Penafsir tidak perlu lagi mempertanyakan keabsahan dan keaslian Al-Qur’an, apakah ia dari Tuhan atau dari pandangan Muhammad Saw.

Penafsiran dimulai dari teks apa adanya tanpa mempertanyakan keasliannya terlebih dahulu. Kedua, Al-Qur’an diterima sebagaimana layaknya teks-teks lain, seperti karya sastra, teks filosofis, dokumen sejarah dan sebagainya. Al-Qur’an tidak memiliki kedudukan istimewa secara metodologis, semua teks ditafsirkan berdasarkan aturan yang sama. Ketiga, Tidak ada penafsiran palsu atau benar, pemahaman benar atau salah. Yang ada hanyalah perbedaan pendekatan terhadap teks yang ditentukan oleh perbedaan kepentingan dan motivasi. Keempat, Tidak ada penafsiran tunggal terhadap teks, tapi pluralitas penafsiran yang disebabkan oleh perbedaan pemahaman penafsir. teks hanyalah alat kepentingan, bahkan ambisi manusia. Penafsirlah yang memberinya isi sesuai ruang dan waktu dalam masa mereka. Terakhir, Konflik penafsiran merefleksikan konflik sosio politik dan bukan konflik teoritis. Setiap penafsiran mengungkapkan sosio-politik penafsir.

Description
Reviews
SAME DAY SHIPPING
Pengiriman langsung dilakukan pada hari pemesanan
Copyright ©.
Lapak Buku (Labu) - Toko Buku Online Allright reserved.
Support by Achmad Rifai Proudly by Blogger