top

Tafsir Sastrawi: Menelusuri Makna Puasa dalam Al-Qur’an

Rp 58.000

Rp 53.000


Tafsir Sastrawi: Menelusuri Makna Puasa dalam Al-Qur’an

Judul: Tafsir Sastrawi: Menelusuri Makna Puasa dalam Al-Qur’an
Penulis: Wali Ramadhani
Penerbit: Mizan, 2014
Tebal: 176 Halaman
Kondisi: Stok Lama Bersegel

orderPEMESANAN
Hubungi Kami di Contact
antarPENGIRIMAN
Barang Dikirim ke Rumah Anda

PUASA, sebagaimana kita tahu, tidak selalu tentang menahan diri dari sesuatu yang biasakitalakukan setiap hari, tidak selalu tentang lapar dan haus. Ada banyak rahasia yang terkandung di dalam Al-Qur’an mengenai perintah ibadah yang satu ini. Ibadah puasa diakui sebagai salah satu dari lima rukun Islam.

Dalam Al-Qur’an ayat 183 sudah sangat nampak tentang diwajibkannya berpuasa bagi orang muslim yang beriman. Jika dibandingkan dengan ibadah-ibadah lainnya, praktik berpuasa ini merupakan ibadah yang paling sulit untuk dilaksanakan. Karena diharuskan untuk menahan diri dari makan, minum, dan berhubungan suami istri, serta praktik-praktik biologis lainnya yang memang sudah menjadi kebutuhan badan. Saya fikir, untuk orang yang belum terbiasa sungguh hal ini sangat berat dan menyiksa. Lantas menagpa Allah memerintahkan manusia untuk berpuasa? Apa sebenarnya pesan yang ingin disampaikan dari kewajiban tersebut? Serta bagaimana pula Al-Qur’an mempengaruhi masyarakat Arab terdahulu untuk melaksanakan ibadah tersebut dengan ikhlas dan senang hati? Padahal, keutamaan puasa dari aspek kesehatan baru terungkap beberapa dekade terahir ini.

Sebenarnya, puasa ini sudah dilaksanakan sejak dulu sebelum Islam datang. Pada saat Nabi Adam bertemu dengan istrinya, Hawa, beliau berpuasa selama sepuluh hari sebagai rasa syukur. Selain itu pemeluk agama Mesir kuno, sebagai paganis juga melakukan puasa untuk menghormati Dewa Matahari dan sungai Nil. Informasi-informasi tersebut selaras dengan QS al-baqarah ayat 183, bahwa mereka, para umat terdaulu sudah mengenal puasa. Meskipun bentuk dan caranya beragam di setiap generasi zaman (hlm 40).

Allah mewajibkan puasa bagi seluruh umat Islam yang beriman bukanlah suatu kesia-siaan. Dalam pandangan ahli Fiqih, puasa dianggap sebagai bagian terpenting dari ibadah tersebut karena laparnya orang yang berpuasa, mereka anggap sebagai senjata ampuh untuk menundukkan tabiat manusia, menahan keinginan manusia, dan mengendalikan hawa nafsu. Atas dasar inilah puasa menjadi ibadah yang begitu penting bagi kehidupan manusia.

Jika ahli Fiqih menjadikan lapar sebagai hikmah diwajibkannya berpuasa (hikmah al-Saum), sedangkan para ahli Tasawwuf menjadikan lapar sebagai inti berpuasa (mihwar al-Riyadhah), menurut ahli Tasawwuf banyak kemudharatan yang disebabkan oleh perut, yang menyebabkan seseorang berkeinginan kuat untuk mendapatkan kedudukan dan harta yang berlimpah hingga melahirkan persaingan, permusuhan, dan kedengkian. Bahkan nafsu perut jugalah yang mengeluarkan Nabi Adam dari Surga. Oleh sebab itu para kaum sufi lebih mementingkan berpuasa dari pada kenyang yang mengakibatkan kemudharatan (hlm. 45-54).

Dalam mewajibkan ibadah puasa, Al-Qur’an menggunakan kata ‘Kutiba’ dan tidak menggunakan kata ‘Furidha’. Karena, ‘Kutiba’ lebih cendrung digunakan untuk menunjukkan kepada sesuatu yang sudah melekat. Pada dasarnya manusia sudah memiliki naluri untuk menahan diri. Sehingga Al-Qur’an menggunakan redaksi kata tersebut.

Pada ayat 184 Al-Qur,an menggunakan kata ‘Ma’dudat’ untuk memberikan kesan kepada pembaca bahwa ibadah puasa hanya dilakukan beberapa hari saja. Hingga manusia merasa mudah untuk mengerjakannya. Hal inji merupakan suatu bentuk persuasi kepada pembaca untuk melaksanakan ibadah puasa tersebut (hlm. 108).

Jelas sekali bahwa Al-Qur’an memilih kata yang pas untuk melunakkan hati para pembaca. Utamanya bagi masyarakat arab dahulu yang terkenal dengan sifatnya yang keras. Oleh sebab itu, pada permulaan QS Al-Baqarah ayat 183 dibuka dengan suara lembut kepada orang-orang yang beriman. Pada ayat berikutnya, ayat 184, menyebutkan bahwa ibadah puasa hanya dilaksanakan beberapa waktu saja. Barulah pada ayat 185 Allah menjelaskan bahwa “beberapa hari tertentu” yang dimaksud adalah bulan Ramadhan. Satu bulan penuh (hlm. 137). Seandainya penyebutan bulan ini disebutkan di awal, yakni pada ayat 183, tentu akan menambah perasaan berat dalam hati pembaca untuk melaksanakannya.

Betapa Al-Qur’an sangat meperhatikan manusia yang mau mengikuti perintah dan tunduk terhadap segala yang temaktub didalamnya. Wali Ramadhani dengan menafsirkan ayat seputar puasa secara sastrawi, telah memberi pemahaman bahwa puasa bukan semata dipandang sebagai perintah yang harus diataati, tapi juga program pembelajaran spiritual dari Allah yang dapat diterima oleh akal pikiran manusia.

----

Ibadah puasa merupakan salah satu ibadah yang urgen dalam Islam. Ini terbukti dengan dicantumkan ibadah tersebut sebagai salah satu dari lima pilar Islam. Dibandingkan dengan ibadah‐ibadah lainnya, puasa dapat dikategorikan sebagai ibadah yang berat untuk dikerjakan, karena diharuskan untuk menahan diri dari makan dan minum yang merupakan al‐h}a>jah al‐'ud}wiyah (kebutuhan anggota badan), melakukan hubungan suami‐istri yang merupakan gari>zat al‐nau' (naluri lawan jenis), dan hal‐hal lainnya yang dapat membatalkan ibadah puasa dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Padahal, itu semua merupakan fitrah manusiawi dan kenikmatan yang diberikan oleh Allah kepada seluruh manusia. Lantas mengapa Allah menyuruh manusia untuk berpuasa? Apa pesan yang ingin disampaikan dari kewajiban tersebut?

Bagaimana pula al‐Qur'an memengaruhi para pembaca saat itu (masyarakat Arab) untuk melaksanakan ibadah tersebut? Padahal keutamaan puasa dari aspek kesehatan baru terungkap beberapa dekade belakangan. Apa tips‐tips yang digunakan al‐Qur'an sehingga para pembaca menerima dan melaksanakan puasa dengan senang dan ikhlas? Bagaimana hubungan antara seorang yang berpuasa dengan ketakwaan yang tertuang dalam Q.S. al‐Baqarah ayat 183? Dan kenapa juga waktu pelaksanaan Ibadah puasa selama satu bulan penuh disebut belakangan dalam al‐Qur'an?

Buku ini akan menjawab semua pertanyaan di atas. Ditulis oleh Wali Ramadhani (Alumni Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Jurusan Ilmu al‐Qur'an dan Tafsir, Yogyakarta), buku ini akan mengupas tuntas penafsiran puasa dalam al‐Qur'an dengan pendekatan tafsir Sastrawi. Dari sini, kita akan menemukan kemukjizatan al‐Qur'an dari aspek bahasa dan sastra.

Dengan menggunakan perspektif tafsir sastrawi, diharapkan dapat memberikan rambu‐rambu pembacaan yang baru terhadap teks al‐Qur'an yang belum pernah diungkap oleh cendekiawan-cendekiawan Muslim sebelumnya, terutama mengenai pemaknaan puasa yang sering ditafsirkan dengan corak fikih dan tasawuf.


-------

Al-Qur’an dan sastra ibarat dua sisi koin, eksistensi keduanya saling menopang. Hal yang sama antara al-Qur’an dan tafsir laksana dua sejoli yang tidak bisa terpisahkan. Keduanya, ibarat sebuah pintu dan kunci. Keindahan al-Qur’an sangat tampak tatkala komposisi sastrawi melekat di setiap lekuk hurufnya. Ia bukan kitab sastra tetapi nuansa sastra menjadi sebuah keniscayaan, dan menjadi sebuah keharusan seorang pemerhati dan pengkaji al-Qur’an menguasai sastra Arab.

Al-Qur’an diwahyukan dalam situasi kesejarahan yang konkrit. Ketika seluruh manusia di dominasi perebutan kekuasaan, al-Qur’an merekonstruksi pola pikir mereka. Begitu juga, tatkala para sastrawan di masa itu saling mengungulkan kehebatan olah bahasa, al-Qur’an hadir sebagai bentuk kritikan kepada mereka dan mereka satu persatu mengakui bawha kitab suci Qur’an nuansa sastranya tak tertandingi.

Amin al-Khulli - istri dari seorang penggiat sastra Mesir A’isyah bintu Syathi’ - mengatakan bahwa Qur’an sebagai kitab sastra Arab terbesar. Karenaya, Wali Ramadhani dalam bukuTafsir Sastrawi: Menelusuri Makna Puasa dalam Al-Qur’an, mencoba menguji dan memakai kerangkaberpikir Amin al-Khulli dengan menggabungkan metode maudhu’iatau tematikdengan corak penafsiran sastra, dan tema yang dibahas dalam buku ini yakni puasa.

Embrio corak penafsiran al-Qur’an dengan kacamata sastra sudah ada sejak era Nabi Muhammad Saw sebelum Amin al-Khulli membumingkan teori penafsiran, misalnya dikenal Ubay ibn Hatim, Abdullah ibn Abbas, Mujahid ibn Jabbar, Hasan al-Basri, Ata ibn Abi Rabbah, Qatadah, al-Suddi al-Kabir, Ibnu Juraij, Muqatil ibn Sulaiman, Sufyan al-Stauri, Abu Ubaida al-Musanna dan Yahya Ibn Ziyad al-Farra (Halaman 25).

Puasa merupakan salah satu rukun Islam yang setiap tahunnya kita lakukan, komunikasi dan gaya penyajian serta cara Tuhan mewajibkan hambanya berpuasa memiliki keunikan tersendiri. Puasa dalam rekaman sejarah peradaban Islam telah mengakar sejak zaman Nabi Adam, pada saat itu Nabi Adam berpuasa selama tiga hari setiap bulan sepanjang tahun.

Nabi Nuh berpuasa selama tiga hari selama sepanjang tahun sembari mewajibkan kepada umatnya. Nabi Ibrahim seorang yang gemar berpuasa, Nabi Yusuf berpuasa saat dalam penjara, Nabi Yunus berpuasa selama di dalam perut ikan, Nabi Ayyub, Nabi Syu’aib, Nabi Ilyas berpuasa selama 40 malam ketika ingin pergi ke Gunung Horeb. Nabi Daud sehari puasa dan sehari lagi tidak (alias selang-seling). Nabi Isa berpuasa selama 40 hari (Halaman 39).

Pesan puasa sampai kepada Nabi Muhammad, tepatnya pada bulan Sya’ban tahun 2 Hijriah saat Nabi Muhammad sudah beraktifitas dakwah di Madinah. Dan Nabi Muhammad telah melakukan puasa sebanyak sembilan kali sebelum wafat.

Dua metode yang digunakan oleh Wali Ramadhan dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an tentang puasa, yaitu metode dirasah ma haula al-Qur’an (kajian seputar Qur’an) dan dirasah ma fi al-Qur’an (kajian mengenai Qur’an itu sendiri). Keduanya dikaji untuk diterapkan pada tiga ayat tentang puasa yaitu Qs. Al-Baqarah ayat 183, 184 dan 185 yang cukup populer dikalangan masyarakat.

Dalam mewajibkan puasa, al-Qur’an menggunakan dan memakai kata kutiba dan tidak furida. Substansi kosa kata keduanya sama tetapi Qur’an memakai kata kutiba untuk menggambarkan bahwa hakikat puasa telah melakat dalam jiwa manusia. Amin al-Khulli menegaskan bahwa kata kutiba dalam Qs. Al-Baqarah ayat 183 mengindikasikan bahwa puasa sangat berat dilakukan.

Keterkaitan atau munasabah antar ayat dalam kasus ini sangat unik, pada ayat 183 Tuhan mewajibkan seluruh kaum beriman untuk berpuasa, pada ayat 184 Tuhan memberikan keringanan dalam berpuasa, dan pada ayat 185 Tuhan membatasi waktu puasa - yang diwajibkan - hanya pada bulan Ramadhan saja.

Jika kita selama ini memiliki pola pikir bahwa fungsi puasa untuk menahan haus dan lapar, maka akan dibantah oleh Amin al-Khulli. Ia mengatakan bahwasanya rasa lapar juga tidak memberikan andil yang begitu besar dalam ibadah-ibadah yang diwajibkan, seperti shalat justru membutuhkan semangat dan kegigihan (Halaman 145).

Amin Al-Khulli mencoba memaknai proses pendidikan puasa yang diwajibkan Tuhan - yang efeknya tidak saja terasa dan kita lakukan pada bulan Ramadhan tetapi berimbas kepada kehidupan sehari-hari kita. Ia mencoba menafsirkan puasa sebagai proses menahan diri dari segala nafsu, keinginan yang berlebihan, pikiran-pikiran buruk dan sesuatu yang merusak jiwa seseorang.

Dampak terpenting dalam proses pendidikan yaitu aspek psikologis dan sosial. Aspek psikologis mengembalikan manusia pada hakikatnya dan aspek sosial sebagai solusi atas pelbagai permasalahan yang terjadi pada seseorang.Buku ini sangat bagus dijadikan referensi untuk mengetahui seluk beluk puasa dalam corak sastra, hal ini penting karena polarisasi antara kajian tekstual dan kontekstual sangat terasa dan kental dalam buku ini.

Description
Reviews
SAME DAY SHIPPING
Pengiriman langsung dilakukan pada hari pemesanan
Copyright ©.
Lapak Buku (Labu) - Toko Buku Online Allright reserved.
Support by Achmad Rifai Proudly by Blogger