top

Dialog Timur dan Barat (Menuju Rekonstruksi Metodologis Pemikiran Politik Arab yang Progresif dan Egaliter)

Rp 67.000

Rp 62.000


Dialog Timur dan Barat (Menuju Rekonstruksi Metodologis Pemikiran Politik Arab yang Progresif dan   Egaliter)

Judul: Dialog Timur dan Barat (Menuju Rekonstruksi Metodologis Pemikiran Politik Arab yang Progresif dan Egaliter)
Penulis: Hasan Hanafi & Muhammad Abid Al jabiri
Penerbit: IRCiSoD, 2015
Kondisi: Bersegel

orderPEMESANAN
Hubungi Kami di Contact
antarPENGIRIMAN
Barang Dikirim ke Rumah Anda

Kalau dicermati, discourse tentang Islam dan Barat memang tidak ada habis-habisnya dan akan terus-menerus ‘mengalir’, apalagi jika melibatkan geliat pemikiran dua tokoh ‘kritikus’ Islam: Hasan Hanafi (Mesir) dan M. Abed al-Jabiri (Maroko). Keduanya sudah melanglang buana menjelajahi arus pemikiran Islam. Meski letak geografis yang berjauhan, Mesir-Maroko, nampaknya tidak mempengaruhi keinginannya untuk memberikan pencerahan kepada umat Islam. Keduanya sepakat untuk ‘membunuh’ setan peradaban (baca: Barat) ang mengklaim dirinya sebagai “pemangku tunggal peradaban”, yaitu dengan mencetuskan dialektika peradaban Islam, yaitu antara Timur (Mesir) dan Barat (Maroko).

Justru yang bikin seru dan menarik dari dialektika ini yaitu adanya pertentangan antara Hasan-Abed dalam tataran epistemologis, dogmatis, dan metodologis. Sampai pada akhirnya, Hasan Hanafi menelorkan gagasan Oksidentalisme (istighrab), sebagai tandingan dari Orientalisme (istisyraq). Sedangkan Abed memberikan skala dasar terminologi Islam, yaitu Islam yang membebaskan, inklusif, dan akomodatif.

Di Indonesia, kita mengenal pemikiran Hasan Hanafi dan Abed al-Jabiri melalui karya-karyanya yang sudah tersebar, baik terjemahan maupun tulisan orang lain tentang keduanya, antara lain: Kiri Islam (LKiS, 1998), Oksidentalisme (Paramadina, 2000), Dari Aqidah ke Revolusi (Paramadina, 2003) dll. Begitu pula dengan karya M. Abed al-Jabiri, Post Tradisionalisme Islam (LKiS, 2000), Kritik Pemikiran Islam (Pustaka Pelajar, 2003), Syura: Tradisi, Partikularitas, dan Universalitas (LKiS, 2003). Lalu apakah ciri khas buku ini yang membedakan dengan buku-buku sebelumnya?

Buku ini merupakan hasil pembukuan dari Hiwar al-Masyriq wa al-Maghrib (Dialektika Timur dan Barat) yang menjadi tema sentral dan aktual yang dikupas-tuntas oleh majalah al-Yawm al-Sabi’ (1989), majalah yang mendiskusikan masalah-masalah Arab-Sentris dan keislaman secara global, terbit di Paris, Perancis. Dialog ini melibatkan dua tokoh sentral—walau belum sepenuhnya dikatakan representatif dari Barat dan Timur—yaitu Hasan Hanafi dan M. Abed al-Jabiri. Dialog ini berlangsung (baca: diterbitkan) dalam dua periode (Maret-November). Periode pertama, dialog Hasan-Abed, selama kurang lebih sepuluh minggu. Sedangkan periode kedua, tanggapan atau komentar dari para budayawan dan para pemikir atas tema yang diperdebatkan Hasan-Abed.

Untuk memahami kompleksitas pemikiran Islam di Timur dan Barat, buku ini sangat membantu dalam mendiskripsikan gagasan-gagasan Islam—versi Timur dan Barat—secara orisinil dan transparan melalui kedua tokoh tersebut. Sebab metode perdebatan (baca: dialektika) yang ditawarkan adalah tematik yang dikemas secara apik dan sistematis. Terdiri dari tiga bagian: (1) dialog Hasan-Abed; (2) komentar dan tanggapan; dan (3) Post Skrip (tanggapan balik). Tema-tema yang diangkat hampir semuanya bersifat universal, diantaranya: Fundamentalisme dan Modernitas, Sekularisme dan Islam, Liberalisme, sampai dengan persoalan Palestina dan Revolusi Perancis. Disamping itu, ada beberapa tema yang hanya berkaitan dengan nuansa lokal (Arab), yaitu “Nasserisme dan Persatuan Arab: Regional atau Multi Regional.” Memang, tema-tema yang disajikan dalam dialog tidak terlalu gress tapi tetap up to date, sehingga tetap menarik untuk diperbincangkan.

Dewasa ini, menurut Hasan Hanafi, sejarah pemikiran Islam berkembang pesat, ditandai dengan munculnya para pemikir dan budayawan yang concern dalam bidang keislaman. Ujung-ujungnya, mereka bermuara pada empat kekuatan Nasional-Arab yang cukup signifikan. Pertama, Gerakan Islam, lahir dari tradisi Islam asli (puritan) yang dipelopori oleh al-Afghani dan M. Abduh. Kedua, Liberalisme, dimulai sejak hubungan kita dengan modernisme Barat, 200 tahun lalu, yang dipelopori oleh al-Thahthawi dan Thaha Husain. Ketiga, Marxisme, lahir dibelahan Masyriq pada permulaan abad ke-20, dipelopori oleh Salam Musa dan Abdullah Annan. Keempat, Nasionalisme Arab, Nasserisme, atau Sosialisme Arab, ditimbulkan oleh Revolusi Arab Kontemporer dan tersembunyi di balik sebagian besar negara Arab Modern. Gerakan ini dipelopori oleh Sathi’al-Hashri dan Michel Aflaq. (hlm. 37-38).

Lebih lanjut, Hasan menekankan perlunya penyelesaian problematika Islam, baik ditingkatan teoritis maupun praksis. Misalnya, Kemerdekaan ‘Dunia Islam’ (Dilema Palestina-Israel), Identitas versus Westernisasi, Persatuan versus Perpecahan, sampai dengan Pemberdayaan Masyarakat vis-à-vis ‘Laizes Faire’ (Pasar Bebas). Ini semua menjadi latar belakang dialog Timur dan Barat (Hasan-Abed), dalam artian, satu kesatuan yang utuh tanpa sentimen apapun. Dengan harapan agar umat Islam bisa terlepas dari ‘kungkungan Barat’ yang hegemonik.

Diantara tema yang menjadi perdebatan sengit adalah “Sekularisme dan Islam”, Abed al-Jabiri menulis artikelnya dengan judul Islam Bukan Gereja untuk Dipisahkan dari Negara sebagai negasi dari gagasan Hasan Hanafi, Islam Adalah Agama Sekuler. Abed memberikan jalan alternatif (sekuler ala Islam) yaitu “demokrasi dan rasionalisme” (hlm. 75). Karena—dia menganggap—keduanya dapat mengungkapkan terminologi yang relevan dengan kebutuhan masyarkat Arab. Demokrasi berarti penghormatan terhadap hak-hak, baik individu maupun kolektif. Sedangkan rasionalisme berarti berpegang teguh pada rasio, ukuran-ukuran logika dan etika dalam melakukan praktik-praktik politik, serta bukan bersandar pada hawa nafsu, fanatisme dan penyimpangan tingkah laku. “Tidak ada salah satu—dari sekian banyak—model demokrasi dan rasionalisme yang bertentangan dengan Islam.” tambahnya.

Satu sisi, Abed al-Jabiri memang terkesan elastis dan dinamis dengan nuansa Arab (baca: semangat Nasionalisme) yang kental. Namun di sisi lain, Abed akan berubah jika dihadapkan dengan persoalan Palestina, seketika keningnya berkerut dan seakan-akan darahnya mendidih. Tentang dilema Palestina, Abed menulis “…tidak ada solusi apapun kecuali pembalasan yang lebih dahsyat.” Dia juga mempertegas, bahwa tidak ada sesuatu yang baik dalam diri orang Yahudi. Biarpun mereka menyebut kami “teroris”, kami hanya bermaksud untuk melakukan resistensi.

Dalam masalah ini, sikap inklusif, transparan, dan toleran lebih ditonjolkan oleh Hasan Hanafi. Dia mengungkapkan bahwa orang Yahudi adalah saudara kita dalam agama. Mereka hidup berdampingan dengan kita pada masa kejayaan Islam (golden age) sebanyak dua periode. Pertama, diantara bangsa Arab di Spanyol. Kedua, era pencerahan di Perancis (Haskala), yang merupakan kelanjutan dari era keemasan di Spanyol. Sejak dari awal, Hasan Hanafi merindukan suasana damai (Yahudi-Islam), tanpa ada gontok-gontokan (baca: perang dingin) dan letupan senjata. Meski nasi sudah jadi bubur—dengan banyaknya ‘tetesan keringat darah’ dan cucuran ‘linangan’ air mata—pintu maaf masih terbuka lebar (persuasive approach). Memang, perselisihan pendapat antara Hasan-Abed (Timur-Barat) pada setiap perbincangan banyak kita temukan dalam buku ini.

Tapi, bagaimanapun bentuk pertikaian atau perselisihan harus diselesaikan dengan kepala dingin. Dialektika Timur-Barat, antara Hasan dan Abed, dapat dijadikan stimulus dan motivasi terbentuknya budaya ‘kritis-dialogis’ yang dinamis. Sehingga diharapkan mampu memahami dan memposisikan jadi diri, sebagai umat Islam, di hadapan peradaban-peradaban lain, terutama Barat.

Abdullah Ubaid
Mahasiswa Program Internasional Mesir-Indonesia Fakultas Dirasat Islamiyah UIN Syahid Jakarta

------------------

Sublimasi pemikiran pembebasan dalam diri Hassan Hanafi itu (membawa) kepada tataran baru dalam perjalanan pemikirannya. Ia tidak lagi berbicara tentang ideologi tertentu, melainkan tentang paradigma baru yang harus dimiliki Islam dalam konteks munculnya universalisme baru yang sesuai dengan ajaran-ajaran Islam sendiri maupun kebutuhan hakiki kaum muslimin.
(Gus Dur)

Setelah melewati 400 tahun masa kehidupan di bawah kekuasaan Dinasti Utsmaniyah, bangsa Arab mulai bangkit dan melakukan pembaruan di bidang pemerintahan sejak permulaan abad ke-20, serta mengekspresikan eksistensi politiknya di tengah-tengah banyak negara di dunia, baik di Barat maupun di Timur. Kebangkitan bangsa Arab itu tentu tidak bisa dilepaskan dari sosok sang pembaharu, Gamal Abdel Nasser, dengan jargon terkenalnya Pan-Arabia.

Namun sayang, sang pelopor ternyata ditakdirkan untuk tidak dapat menikmati hasil dari perjuangannya. Ia meninggal dunia saat buah pemikiran dan perjuangannya mulai banyak orang. Setelah itu, bangsa Arab mengalami kebingungan akan model politik dan pemerintahan yang cocok dengan situasi dan kondisi Arab saat itu. Beragam model pemikiran dan aliran politik telah diterapkan, mulai progresivisme, Nasserisme, Nasionalisme Arab, bahkan liberalisme dan Marxisme. Corak pemikiran dan aliran manakah yang paling cocok, bangsa Arab masih terus-menerus melakukan pencarian hingga saat ini.

Sebagai bagian dari bangsa Arab dari kalangan intelektual, Hassan Hanafi (Mesir) dan Muhammad Abel al-Jabiri (Maroko) turut serta dalam pencarian corak pemikiran tersebut. Dan, dialog menjadi salah satu media pencarian paling tepat yang mereka pilih. Buku ini merupakan rangkuman dari dialog tertulis di antara keduanya, yang kemudian mendapatkan tanggapan, baik pro atau kontra, dari para pemikir Arab lainnya.

Description
Reviews
SAME DAY SHIPPING
Pengiriman langsung dilakukan pada hari pemesanan
Copyright ©.
Lapak Buku (Labu) - Toko Buku Online Allright reserved.
Support by Achmad Rifai Proudly by Blogger