top

Formasi Nalar Arab; Kritik Tradisi dan Wacana Agama

Rp 102.000

Rp 95.000


Formasi Nalar Arab; Kritik Tradisi dan Wacana Agama

Judul: Formasi Nalar Arab; Kritik Tradisi dan Wacana Agama
Judul Asli: Takwin al-'Aql al-'Arabi
Penulis: Muhammad Abed al-Jabiri
Penerbit: IRCiSoD, 2014
Tebal: 538 halaman
Kondisi: Bersegel

orderPEMESANAN
Hubungi Kami di Contact
antarPENGIRIMAN
Barang Dikirim ke Rumah Anda

Abad ke-17 menandai dua peristiwa penting dalam sejarah peradaban dunia; awal kebangkitan dan dominasi Barat, sekaligus kemunduran dan kehancuran (Arab) Islam setelah kejayaannya selama beberapa abad. Inilah yang mendorong para intelektual Arab mencurahkan pemikirannya mencari pangkal keterpurukan dan selanjutnya merencanakan langkah strategis untuk bangkit kembali.

Sebagai bagian dari intelektual Arab, Abid al-Jabiri tampil dengan pemikiran yang segar dan cerdas. Dalam penelitiannya, ia menyimpulkan bahwa faktor keterpurukan bangsa Arab dan kegagalannya untuk bangkit kembali adalah karena upaya kebangkitan itu menyimpang dari mekanisme kebangkitan yang semestinya.

Lalu, seperti apakah mekanisme kebangkitan dunia Islam yang semestinya menurut Al-Jabiri, bagaimana seharusnya para intelektual Islam berpikir? Simak jawabannya di dalam buku Formasi Nalar Arab ini. Selamat menyelami pemikiran segar Al-Jabiri!

Abid al-Jabiri mendefinisikan al-Qur’an sebagai “kitab yang diwahyukan oleh Allah mlalui Jibril kpada nabi Muhammad SAW dengan lisan Arab dan meneruskan kitab-kitab terdahulu (asy-syu’ara [26]:196).” Dari definisi tersebut seolah al-Qur’an memang turun pada setting tempat dan waktu bangsa Arab namun juga turun adalah bentuk dari penerus dan penyempurna kitab-kitab sebelumnya dan untuk rohmat bagi semua pengikut Nabi Muhammad SAW dimasa sesudah nabi dimanapun berada. Jadi bahasa arab hanyalah sebagai pelantara.

Oleh karena ia sebagai pelantara maka kajian historis dan normatifitas bahasa sangat penting. Namun lebih rinci ada tiga poin dari definisi al-Jabiri atas al-Qur’an, pertama, al-Qur’an bukanlah sama-sekali baru, namun merupakan penerus dari kitab sebelumnya yang menunjukan kontinuitas seruan tuhan, kedua, bahwa ia tetap merupakan pristiwa ruhani, dan ketiga, al-Qur’an menjadikan pembawanya sebagai mungdzir atau orang yang selalu “mengingatkan” atas haq dan batil.

Menurut Abid al-Jabiri, memahami al-Qur’an tidak bisa dengan pengalihan bahasa lain, karena tidak mungkin suatu teks dialihbahasakan tanpa mengalami perubahan. Dan jika al-Qur’an dialih bahasakan, bukanlah dianggap sebagai al-Qur’an, karena cakupan makna suatu kosa kata akan sangat tereduksi oleh satu pilihan makna, padahal satu kosa kata al-Qur’an terkadang memiliki bisa lebih dari satu makna.

Description
Reviews
SAME DAY SHIPPING
Pengiriman langsung dilakukan pada hari pemesanan
Copyright ©.
Lapak Buku (Labu) - Toko Buku Online Allright reserved.
Support by Achmad Rifai Proudly by Blogger