top

Tiga Mazhab Utama Filsafat Islam (Ibnu Sina, Suhrawardi, dan Ibnu 'Arabi)

Rp 61.000

Rp 57.000


Tiga Mazhab Utama Filsafat Islam (Ibnu Sina, Suhrawardi, dan Ibnu \

Judul: Tiga Mazhab Utama Filsafat Islam (Ibnu Sina, Suhrawardi, dan Ibnu 'Arabi)
Penulis: Seyyed Hossein Nasr
Penerbit: IRCiSoD, 2014
Tebal: 244 hlm
Kondisi: Bersegel

orderPEMESANAN
Hubungi Kami di Contact
antarPENGIRIMAN
Barang Dikirim ke Rumah Anda

Batasan-batasan apa yang melingkari sebuah filsafat sehingga bisa disebut sebagai filsafat Islam? Jika filsafat Islam adalah filsafat yang lahir dari pemikiran orang Islam, lalu mengapa tidak disebut filsafat muslim? Apa sebenarnya corak pembeda dari sebuah filsafat sehingga disebut sebagai filsafat Islam?

Di dalam buku ini, Seyyed Hossein Nasr mendiskusikan tiga ahli hikmah muslim termasyhur, yaitu Ibnu Sina (Avicenna), Suhrawardi, dan Ibnu 'Arabi, yang diharapkan bisa mengekspresikan--melalui mereka--sudut pandang tiga mazhab penting dalam filsafat Islam, yaitu ilmuwan-filsuf, iluminasionis, dan sufi. Dalam totalitas mereka masing-masing, ketiga tokoh ini menampilkan aspek signifikan dari intelektualitas Islam--menyingkap cakrawala-cakrawala yang telah menentukan kehidupan intelektual banyak ahli hikmah terkemuka dalam Islam.

Buku yang ada di genggaman Anda ini memberikan sumbangan penting dalam memberikan pemahaman yang lebih luas tentang filsafat Islam, dengan berusaha melihat dari dalam dan tidak terjebak dalam perspektif Barat. Nasr mampu membuat kita lebih mendalami kekayaan dan pluralitas pandangan dan aliran dalam Islam, dengan mengkaji pandangan dan pengaruh Ibnu Sina, Suhrawardi, dan Ibnu 'Arabi dalam filsafat Islam secara khusus dan pemikiran secara umum. Inilah bacaan awal yang tepat bagi mereka yang ingin mempelajari filsafat Islam.
Selamat menyelami samudra khazanah filsafat Islam.

---------------

Jika melihat intensitas keagamaan dan kehidupan spiritual serta realisasi cita-citanya, masa keemasan Islam tentu mesti disandangkan pada masa kehidupan Nabi Muhammad Saw. dan masyarakat muslim pertama di sana. Tapi jika melihat pada tingkat intelektual dan artistiknya, masa keemasan Islam baru berlangsung beberapa abad setelah kelahirannya, yakni setelah Islam mendapat pasokan “gizi” dari peradaban-peradaban sebelumnya.

Seyyed Hossein Nasr melihat bahwa satu alasan yang mendasari mengapa tiba-tiba perhatian masyarakat Islam pada waktu itu tercurah pada ilmu-ilmu dan filsafat pra-Islam adalah bahwa pada saat akan memasuki era tersebut, kaum Muslim melakukan kontak-kontak dengan otoritas keagamaan Yahudi dan Kristen yang berusaha mempertahankan ajaran-ajaran mereka. Mereka juga menyerang Islam dengan argumen yang diambil dari logika dan filsafat Aristotelian yang belum dikenal kaum Muslim.

Dari situlah muncul ragam aliran-aliran atau mazhab pemikiran Islam, seperti filsafat, seni dan ilmu pengetahuan lainnya. Dalam buku ini, penulis akan meliris tiga sosok pemikir besar Muslim, Ibnu Sina, Suhrawardi dan Ibnu Arabi, yang diharapkan –dari mereka– akan tergambarkan tiga mazhab pemikiran Islam, yaitu ilmuwan-filsafat, illumnasionis, dan sufi. Mereka memainkan peran signifikan dalam mazhab yang dinisbatkan pada mereka.

Misalnya Ibnu Sina dengan ilmu filsafat. Pria bergelar “Pangeran Para Dokter” yang dilahirkan 370/960 ini pada usia belia telah menguasai beragam disiplin ilmu, seperti filsafat, kedokteran, seni, metafisika, ilmu alam, matematika, dan lainnya. Bahkan, keahliannya dalam ilmu kedokteran telah membuatnya berada di tempat istimewa di dunia Timur dan Barat.

Karya-karya beliau mendekati 250 buah yang meliputi hampir semua ilmu yang dikenal dunia pada era pertengahan. Diantara karya fenomenalnya adalah As-Syifa (sebuah ensiklopedia terbesar yang pernah ditulis manusia), An-Najat, ‘Uyun al-Hikmah, dan Al-Isyarah wa at-Tabiat. (hal. 47-48)

Sebagai seorang Muslim, Ibnu Sina dalam karya-karyanya termasuk karya filosofinya selalu mencoba menyesuaikan dengan sudut pandang Islam dan kenyataannya ia mendapat ilham dari ajaran dan semangat Islam dalam banyak aspek doktrin-doktrinnya. Ia begitu peka atas tuduhan ketidakberagaman yang dilancarkan oleh para teolog eksoterik terkemuka dan para sarjana hukum. Salah satu perhatian khusus dalam filsafat agama beliau adalah teori tentang kenabian. Ia berusaha menformulasikan teori filosofis dalam penyelarasan dengan ajaran al-Qur’an dan pada saat yang sama tetap konsisten dengan pandangan dunianya yang general. Dan mulai dari abad ke-12, pandangan-pandangan Ibnu Sina mulai berpengaruh di pusat-pusat belajar Eropa (hal. 77-80).

Meski begitu, pada abad-abad berikutnya filsafat peripetetik yang mencapai puncak kesempurnaannya bersama Ibnu Sina dikritik oleh para ahli Fiqih dan kaum Sufi yang menentang kecenderungan rasionalime yang inheren dalam filsafat Aristoteles. Sejak itu kekuatan filsafat mulai runtuh berganti dengan kemunculan mazhab Sufisme dan Teologi.

Salah satu tokoh mazhab Sufisme yang dibahas penulis dalam buku ini adalah Ibnu ‘Arabi. Dalam Sufisme arti penting beliau terletak pada formulasinya atas doktrin-doktrin Sufisme dan jasanya mengeksplisitkan doktrin-doktrin tersebut. Kemunculannya tidak membawa “kemajuan” dengan menjadikan Sufisme lebih artikulatif dan teoritis, dan juga “kemunduran” dari cinta Tuhan ke pateisme. Hakekatnya formulasi eksplisit doktrin-doktrin Sufi beliau menandakan kebutuhan lingkungan yang menjadi sasaran penjelasan lebih lanjut dan klasifikasi dari doktrin tersebut lebih jauh (hal. 163-164).

Seperti wali besar lainnya, “mahakarya” dari Sufi kelahiran Spayol 560/1165 ini adalah kehidupannya sendiri, kehidupan yang paling luar biasa, di mana doa, dzikir, kontemplasi dan ziarah ke berbagai Wali Sufi bersatu dengan penglihatan Teofanik atas dunia spiritual tempat hierarki tak terlihat disingkapkan padanya. Selain itu, Ibnu ‘Arabi juga telah menghasilkan ratusan karya besar yang sebagian masih berupa manuskrip-manuskrip yang tersimpan di berbagai perpustakaan dunia Islam dan Eropa. Karyanya mulai dari risalah-risalah pendek dan beberapa halaman surat hingga Futuhat yang monumental (hal. 167-177).

Seyyed Hossein Nasr juga mendiskusikan Suhrawaldi sang tokoh yang dikenal sebagai guru iluminasi, khususnya oleh mereka yang menjaga kehidupan mazhabnya hingga saat ini, yakni sebuah mazhab yang berusaha menggabungkan pemikiran filsafat yang mengedepankan akal dan kearifan Sufisme yang mengedepankan wahyu. (Moh. Romadlon)

-------------

Description
Reviews
SAME DAY SHIPPING
Pengiriman langsung dilakukan pada hari pemesanan
Copyright ©.
Lapak Buku (Labu) - Toko Buku Online Allright reserved.
Support by Achmad Rifai Proudly by Blogger