top

Membendung Arus, Respon Gerakan Muhammadiyah Terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia.

Rp 107.000

Rp 99.000


Membendung Arus, Respon Gerakan Muhammadiyah Terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia.

Judul: Membendung Arus, Respon Gerakan Muhammadiyah Terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia.
Penulis: Alwi Shihab
Penerbit: Suara Muhammadiyah, 2016
Tebal: 2,5 cm
Kondisi: Baru (Segel)

orderPEMESANAN
Hubungi Kami di Contact
antarPENGIRIMAN
Barang Dikirim ke Rumah Anda

Satu lagi sebuah buku tentang Muhammadiyah diterbitkan. Berbeda dengan buku-buku lain soal Muhammadiyah, buku berjudul asli The Muhammadiyah Movement and Its Controversy with Christian Mission in Indonesia ini menjadi istimewa, karena berhasil mengungkapkan peran Muhammadiyah dalam menghadapi arus Kristenisasi di Indonesia, yang mayoritas berpenduduk muslim.

Menurut Alwi Shihab, selama ini ada dua pandangan yang mendorong Muhammadyah lahir. Pertama, pandangan yang menyatakan bahwa kelahirannya dimotivasi oleh gagasan pembaruan Islam dari Timur Tengah ke Indonesia pada awal abad ke-20. Kedua, pandangan yang menekankan bahwa Muhammadiyah muncul sebagai respons terhadap pertentangan ideologis yang telah berlangsung lama dalam masyarakat Jawa.

Namun, menurut Alwi, ada faktor lain yang sangat penting terabaikan, dan bahkan dianggap tidak penting oleh para sarjana, baik Barat maupun Indonesia. Yaitu, Muhammadiyah didirikan KH Ahmad Dahlan pada 1912 karena didorong oleh penetrasi misi Kristen di Indonesia.

Kenapa para sarjana Indonesia bersikap menyepelekan faktor misi Kristen ini? Mereka, menurut Alwi, enggan membahasnya karena takut menimbulkan pertentangan tersembunyi antara kaum muslim dan Kristen di Tanah Air. Mereka juga terlalu berhati-hati dan tidak mau mengusik kepekaan pemerintah terhadap isu suku, agama, ras, dan antargolongan.

Namun, melalui buku ini, Alwi mencoba menerobos alasan-alasan tersebut. Buku yang berasal dari disertasi doktor di Universitas Temple, Amerika Serikat (1995), ini menjelaskan sikap dan langkah Muhammadiyah untuk mencegah arus Kristenisasi di Indonesia.

Menurut Alwi, Muhammadiyah berdiri setelah misi-misi Kristen merambah tanah Jawa. Saat itu, penguasa Keraton Yogyakarta - atas desakan Pemerintah Belanda- menyetujui pencabutan larangan penginjilan dan membuka kegiatan misionaris Kristen di wilayah mayoritas muslim di Jawa. Dan Muhammadiyah berupaya menghentikan atau setidaknya membatasi pengkristenan itu, dengan cara-cara seperti yang dianut kaum Kristen. Misalnya, mendirikan lembaga sosial, sekolah, panti asuhan, dan klinik di seluruh Indonesia.

Langkah Muhammadiyah ini diperkuat pernyataan Ahmad Dahlan, "Meskipun Islam tidak akan pernah lenyap dari muka bumi, kemungkinan Islam lenyap di Indonesia tetap terbuka." Pernyataan ini mengesankan bahwa optimisme Muhammadiyah tentang kekuatan nilai-nilai Islam di Jawa telah digoyang posisi misi Kristen yang makin kuat.

Namun, Ahmad Dahlan tidak bersikap radikal. Ia tetap toleran moderat, memelihara hubungan baik, dan berusaha menghindari konfrontasi. Sepeninggal Ahmad Dahlan, sikap "anti-Kristen" ini muncul secara terbuka. Misalnya, yang dilontarkan tokoh Muhammadiyah, KH Fachruddin dan H. Sudjak, atau kongres tahunan di Yogyakarta (1924) yang terang-terangan menentang misi Kristen. Sudjak, misalnya, pernah menggugat Residen Belanda dan Sultan Yogyakarta, yang mengurangi serta mengalihkan subsidi klinik dan rumah jompo Muhammadiyah ke rumah-rumah jompo milik rumah sakit Kristen.

Permusuhan itu berlanjut hingga Orde Lama. Piagam Jakarta (Mukadimah UUD 1945), yang hendak disahkan, menyulut kontroversi di kalangan pemimpin Indonesia, khususnya perdebatan kalangan muslim dan Kristen. Permusuhan ini memanas ketika umat Kristen mendirikan DGI (Dewan Gereja-gereja di Indonesia) pada 1950, yang didukung dengan dana bantuan luar negeri.

Pada pemerintahan Soeharto, reaksi kaum muslim makin tegas, ketika kalangan gereja menawarkan perlindungan bagi masyarakat Indonesia yang dicurigai sebagai komunis. Fenomena pasca-1965 ini menjadi sorotan tajam. H.M. Rasjidi, misalnya, memaparkan cara-cara kotor misionaris Kristen merangkul pemeluk baru Kristen dengan membangun gereja di tengah desa-desa muslim. Tokoh Muhammadiyah ini mendesak pemerintah untuk mengontrol dan mengatur prosedur pembangunan tempat ibadah, serta mengarahkan cara-cara berdakwah agama secara benar.

Permusuhan kedua pihak tampak nyata dalam penerbitan buku. H. Djarnawi Hadikusuma (?) -anggota Dewan Pengarah Muhammadiyah- menulis Sekitar Kristologi dan Perdjandjian Lama dan Perdjandjian Baru, dan Habullah Bakry menulis Yesus dalam Al-Quran dan Muhammad dalam Bibel, untuk menanggapi karya F.L. Bakker yang berjudul Tuhan Yesus dalam Islam. Inilah sikap apologis dan polemis dari kedua pihak.

Kecuali itu, Muhammadiyah juga aktif menolak Rancangan Undang- Undang (RUU) Perkawinan (1972), yang dianggap menguntungkan kaum Kristen. Lihat pula fatwa Dr. Hamka -tokoh Muhammadiyah dan Ketua Majelis Ulama Indonesia- pada 1981 tentang larangan bagi kaum muslim menghadiri perayaan Natal, serta perdebatan pemberlakuan UU Nomor 7 Tahun 1989 (Peradilan Agama) dan UU Nomor 2 Tahun 1989 (Sistem Pendidikan Nasional). Dalam perdebatan ini, Muhammadiyah diwakili Ismail Sunny dan Lukman Harun.

Menurut Alwi, sejarah panjang kecurigaan Kristen dan muslim itu menjadi dasar pokok yang menyebabkan perselisihan. Kedua pihak memandang dirinya sebagai agama universal, mutlak, unik, unggul, normatif, dan wahyu sahih dari Tuhan. Pemahaman dan wawasan ini, menurut dosen di Hartford Seminary itu, mempersubur rasa permusuhan dan menumbuhkan kecurigaan.

Kapan permusuhan ini berakhir? Doktor lulusan Universitas Ayn Syamsi, Mesir, itu menyebutkan bahwa hanya lewat pendidikanlah para pemimpin umat dan pengikutnya dapat belajar tidak hanya memahami umat lain, melainkan juga benar-benar hidup dan bekerja sama satu sama lain sebagai umat beriman.

Description
Reviews
SAME DAY SHIPPING
Pengiriman langsung dilakukan pada hari pemesanan
Copyright ©.
Lapak Buku (Labu) - Toko Buku Online Allright reserved.
Support by Achmad Rifai Proudly by Blogger