top

Batavia Kota Banjir

Rp 62.000

Rp 48.000


Batavia Kota Banjir

Judul: Batavia Kota Banjir
Penulis: Alwi Shahab
Penerbit: Republika, 2009
Tebal: 204 hlm
Kondisi: Stok Lama Segel

orderPEMESANAN
Hubungi Kami di Contact
antarPENGIRIMAN
Barang Dikirim ke Rumah Anda

Bajir tak pernah jemu menggenangi ibukota dan ini terjadi sudah sejak lama. Banjir selalu memusingkan para Walikota dan Gubernur untuk mengendalikannya. Sejak Walikota Suwiryo sanpai Sudiro, Gubernur Dr Sumarno sampai Sutiyoso.

Para Gubernur Jenderal Belanda, sejak JP Coen sampai AWL Tjarda Van Starkenborgh Stachoewer, juga gagal mengatasi banjir di Jakarta (d/h Batavia). Ada 66 Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang Berkuasa di Batavia. Tapi, tidak ada yang pernah merasa bersalah atas terjadinya banjir di kota ini.

Seorang penulis Amerika Serikat yang selama beberapa tahun menjadi Staf Kantor Penerangan AS (USIS) di Jakarta, ketika menulis tentang kota ini menyalahkan pendiri Batavia JP Coen karena mendirikan kota di atas rawa-rawa. Kalau saja Coen bijaksana dan memilih tempat yang lebih tinggi, setidaknya bencana banjir dapat dikurangi, dan tidak memusingkan para penggantinya.

Banjir paling besar di Jakarta terjadi pada tahun 1872, sehingga Sluisburg (Pintu Air) di depan Masjid Istiqlal sekarang ini jebol. Kita tidak tahu bagaimana banjir besar 135 tahun lalu itu dibandingkan dengan banjir sekarang. Yang pasti ketika itu Ciliwung meluap dan merendam pertokoan serta hotel di Jl. Gajah Madah, Hayam Wuruk.

Buku ini berisi kisah-kisah "Jakarta Tempo Doeloe" dan ini adalah buku ke-lima Alwi Shahab yang diterbitkan oleh Penerbit Republika, setelah "Robin Hood Betawi", "Queen of The East", "Saudagar Bagdad dari Betawi", dan "Maria Van Engels".

-------

Batavia kota banjir hanya lah salah satu dari kisah Jakarta Tempo Dulu yang terdapat dalam buku dengan judul yang sama. Alwi Shahab, penulis dari buku ini mempunyai pengetahuan yang mendalam mengenai sejarah kota Jakarta. Kota Jakarta dengan usianya yang kini memasuki tahun ke 488 sejak didirikan oleh JP coen tahun 1527, memiliki sejarah panjang yang menarik untuk disimak.

Persoalan banjir merupakan salah satu masalah yang kerap memusingkan para pemimpin kota ini. Banjir seolah tak pernah jemu untuk mengenangi kota Jakarta terutama di puncak musim penghujan. Dengan membaca buku ini paling tidak pembaca akan sedikit mengerti kenapa masalah yang kerap timbul itu masih sulit untuk ditangani.

Jakarta yang terletak di dataran rendah, sejak zaman Kerajaan Tarumanegara memang sering dilanda banjir. Terekam dalam prasasti tugu yang kini tersimpan di museum sejarah Jakarta, Raja Purnawarman pernah memerintahkan untuk menggali sebuah kali mulai dari Bekasi hingga ke Tangerang sebagai upaya untuk mengatasi banjir.

Banjir paling besar pernah terjadi di Batavia pada tahun 1872, kita tidak tau sebesar apa banjir pada waktu itu bila dibandingkan dengan banjir sekarang. Paling tidak pada saat itu sungai Ciliwung meluap dan merendam pertokoan serta hotel di Jl. Gajah Mada, Hayam Wuruk, Harmoni, Rijswijk (Jl. Veteran), dan Noordwijk (Jl. Juanda).

Pemerintah Hindia Belanda sangat sadar dengan kondisi Batavia yang berada di dataran rendah berawa-rawa serta banyak terdapat situ atau danau kecil. Pada tahun 1895, dirancang sebuah grand design pembangunan dari daerah hulu di kawasan puncak hingga daerah hilir di daerah utara jakarta. Namun kini, pembangunan kawasan puncak sudah menyalahi tata ruang dan beralih fungsi sehingga tidak heran bila Jakarta kehilangan daerah resapan air, tak hanya itu penduduk Jakarta pun berkontribusi dengan tidak mempedulikan kebersihan sungai, membuang sampah sembarangan, membangun rumah di atas bantaran kali, membangun mall atau daerah industri di daerah yang seharusnya menjadi daerah resapan.

Mengatasi masalah banjir bukan hal mudah dan bisa berlangsung cepat, diperlukan dukungan pemerintah, dan partisipasi dari warga. Kala itu, Pemerintah Hindia Belanda sangat tegas dalam menghukum mereka yang kepergok membuang sampah di sungai. Belanda juga mengeluarkan perintah agar semua kali buatan dan kanal di dalam kota Batavia dibersihkan dari penduduk yang tinggal di bantarannya. Mungkin pemerintah DKI Jakarta saat ini bisa mencontoh usaha-usaha positif yang pernah dilakukan Pemerintah Hindia Belanda untuk dapat mengurangi dampak dari banjir, baik banjir kiriman maupun banjir setempat.

Penulis juga mengajak pembacanya untuk menyusuri jalan-jalan, bangunan, kampung-kampung tua, serta kehidupan sosial para penduduk Batavia serta perubahannya yang dapat kita lihat saat ini. Setidaknya dengan adanya rekam sejarah kota Jakarta, kita dapat mempelajari hal apa saja yang pernah terjadi dahulu, karena siklus kehidupan selalu berputar maka ada suatu masa kita akan menghadapi masalah yang sama yang pernah dihadapi pada masa dahulu, tinggal bagaimana kita bisa dengan bijak mempergunakan fakta sejarah tersebut.

Description
Reviews
SAME DAY SHIPPING
Pengiriman langsung dilakukan pada hari pemesanan
Copyright ©.
Lapak Buku (Labu) - Toko Buku Online Allright reserved.
Support by Achmad Rifai Proudly by Blogger